Cara Melakukan Analisis Bottleneck Produksi di Industri Manufaktur
- Machine Vision Indonesia
- Oct 3
- 6 min read

Dalam industri manufaktur, salah satu tantangan terbesar adalah bottleneck di proses produksi karena menyebabkan keterlambatan output, efisiensi menurun, hingga meningkatkan biaya operasional. Untuk mengatasinya, perusahaan perlu melakukan analisis bottleneck produksi yang sistematis.
Dengan melakukan analisis, manajer produksi dan pemimpin pabrik bisa mengidentifikasi titik hambatan pada alur produksi, memahami penyebabnya, serta merancang strategi untuk meningkatkan OEE dan efisiensi operasional secara keseluruhan.
Di artikel ini akan membahas mengenai apa itu bottleneck produksi, jenisnya, contohnya, dampak, manfaat, hingga studi kasus nyata di industri.
Daftar Isi
Apa itu Bottleneck Produksi?
Bottleneck produksi adalah kondisi di mana suatu tahap proses produksi menjadi penghambat yang mengakibatkan kapasitasnya lebih kecil dibandingkan tahap lainnya. Akibatnya, alur produksi tidak lancar, terjadi penumpukan pekerjaan di satu titik, dan menurunnya efisiensi.
Istilah ini diibaratkan seperti leher botol yang menyempit, membuat cairan yang mengalir jadi lebih lambat meski wadahnya besar. Dalam konteks industri manufaktur, bottleneck bisa menimbulkan:
Keterlambatan produksi
Downtime mesin lebih tinggi
Utilisasi peralatan rendah
Biaya operasional meningkat
Jenis Bottleneck di Manufaktur: Jangka Pendek vs Jangka Panjang
Bottleneck Jangka Pendek
Bersifat sementara, sering kali muncul akibat kondisi tidak terduga, misalnya absensi mendadak atau keterlambatan material. Biasanya dapat hilang dengan sendirinya atau dengan koreksi sederhana.
Bottleneck Jangka Panjang
Lebih kritis karena berlangsung lama dan sering kali tersembunyi. Penyebabnya bisa seperti peralatan usang, proses tidak optimal, atau kekurangan tenaga kerja terampil. Bottleneck ini menyebabkan downtime berlebih, produktivitas menurun, dan berdampak pada moral pekerja.
Contoh Bottleneck di Proses Produksi
Bottleneck dapat muncul di berbagai titik. Beberapa contohnya:
Absensi Karyawan
Operator yang absen tanpa pengganti bisa menimbulkan bottleneck sementara, terutama jika skill-nya spesifik.
Solusinya, lakukan cross-training agar karyawan dapat saling menggantikan.
Pelatihan Tidak Konsisten
Operator baru yang kurang terlatih dapat membuat proses jadi lebih lambat. Standarisasi pekerjaan dan otomatisasi alur kerja bisa menjadi solusi.
Pemantauan Produksi Masih Manual
Mengandalkan pencatatan manual rentan human error dan data bias. Selain itu, data biasanya jadi terlambat dianalisis.
Solusinya, gunakan platform monitoring otomatis untuk data real-time.
Reactive atau Preventive Maintenance
Jika maintenance hanya dilakukan saat mesin rusak, maka downtime akan meningkat. Strategi yang baik adalah melakukan predictive maintenance menggunakan sensor IoT dan memanfaatkan CMMS untuk monitoring kinerja mesin.
Perubahan Manual
Perubahan manual sering terlambat diterima oleh semua mesin. Dengan otomatisasi workflow dapat memastikan semua pihak langsung mendapatkan instruksi terbaru.
Keterbatasan Teknologi atau Silo Data
Sistem lama yang saling tidak terhubung akan menciptakan hambatan komunikasi antar mesin dan tim. Perlunya integrasi yang tepat untuk komunikasi lebih lancar.
Penyebab Umum Bottleneck di Proses Produksi
Komunikasi Buruk
Komunikasi dengan cara manual (verbal atau menggunakan kertas) rawan hilang atau tertunda. Solusinya, gunakan sistem data otomatis.
Data Produksi Manual
Pencatatan manual memakan waktu dan penuh kesalahan, sehingga menghambat analisis cepat.
Proses yang Tidak Optimal
Misalnya mesin bor yang harus berganti-ganti alat sesuai permintaan upstream, membuat alur terhambat.
Keterbatasan Sumber Daya
Jika satu teknisi harus membagi waktu di beberapa mesin khusus, akan menimbulkan bottleneck tenaga kerja.
Teknologi Usang
Mesin lama yang tidak kompatibel dengan sistem baru akan menciptakan ketidakcocokan dalam alur kerja.
Dampak Bottleneck di Proses Produksi
Bottleneck bisa jadi sangat mahal bagi perusahaan. Dampaknya meliputi:
Kerugian Waktu: waktu mesin, waktu tunggu, dan lead time jadi lebih panjang.
Produktivitas Turun: Bottleneck jangka panjang dapat menurunkan produktivitas seluruh lini.
Moral Karyawan Menurun: operator frustasi saat proses macet, memicu karyawan menyiasati suatu masalah yang justru berisiko.
Kerugian Finansial: Bottleneck bisa merugikan perusahaan dari ratusan ribu hingga miliaran rupiah per jam tergantung industri.
Manfaat Melakukan Analisis Bottleneck
Melakukan analisis hambatan produksi dapat memberi banyak manfaat, seperti:
Menghilangkan Pemborosan: downtime, tenaga kerja idle, atau material terbuang bisa terkurangi
Meningkatkan Pengetahuan Manajerial: pemahaman mendalam membantu desain ulang proses dan pengembangan lini produksi di masa depan
Meningkatkan OEE: peralatan lebih optimal digunakan
Mendukung Transformasi Industri 4.0: integrasi data, IoT, dan Ai jadi lebih efektif jika bottleneck produksi diminimalkan.
Cara Melakukan Analisis Bottleneck Produksi
Identifikasi Proses Produksi Secara Menyeluruh
Petakan alur produksi mulai dari input material hingga output akhir
Kumpulkan Data Kinerja
Data mesin, cycle time, downtime, kapasitas operator, hingga supply chain
Analisis Titik Transisi
Bottleneck sering terjadi pada area perpindahan material, setup mesin, atau komunikasi antar tim
Evaluasi Faktor SDM dan Teknologi
Cek kesenjangan skill, pelatihan, hingga kondisi mesin dan integrasi sistem.
Gunakan Tools Analisis
Terapkan beberapa metode seperti:
DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control)
Adalah alat peningkatan proses dalam metodologi Six Sigma yang digunakan untuk mengatasi bottleneck. Metode ini berfokus pada siklus feedback berkelanjutan untuk menyempurnakan suatu proses setelah hambatan teridentifikasi.
Theory of Constraints (TOC)
Theory of Constraints sangat ideal digunakan dalam analisis bottleneck. Pendekatan ini membantu tim identifikasi faktor pembatas terbesar yang menghalangi hasil optimal. Setelah faktor pembatas ditemukan, langkah selanjutnya adalah melakukan penyesuaian dan perbaikan hingga bottleneck benar-benar dihilangkan.
Root Cause Analysis
Setiap bottleneck memiliki akar penyebab. Root Cause Analysis membantu menggali lebih dalam untuk menemukan penyebab dasar suatu bottleneck. RCA menekankan pada aspek bagaimana dan mengapa hambatan itu terjadi.
Fishbone Diagram
Atau Ishikawa Diagram adalah alat visual untuk memahami sebab-akibat dari suatu bottleneck di manufaktur. Masalah utama digambarkan sebagai “kepala ikan”, sementara faktor penyebab mengalir ke arah “tulang punggung ikan”. Diagram ini membantu tim memvisualisasikan masalah secara menyeluruh hingga menemukan solusi tepat.
Plan-Do-Check-Act (PDCA)
Merupakan alat continuous improvement dengan pendekatan siklus. Setiap siklus dimulai dari perencanaan, implementasi, evaluasi, hingga tindakan korektif. Siklus ini diulang tanpa batas untuk meningkatkan sistem dan mengurangi bottleneck di lini produksi.
5S Framework
Merupakan metode lean manufacturing berfokus pada penataan area kerja sistematis.
Sort (Seiri): memilah barang yang diperlukan dan membuang yang tidak diperlukan
Set (Seiton): menata barang agar mudah ditemukan dan digunakan
Shine (Seiso): membersihkan area kerja secara teratur
Standardize (Seiketsu): membuat standar prosedur agar keteraturan terjaga
Sustain (Shitsuke): membangun kebiasaan disiplin agar 5S terus berjalan
Pendekatan ini efektif mengungkap dan mengatasi hambatan fisik di area produksi.
Value Stream Mapping (VSM)
Value Stream Mapping adalah alat lean yang memetakan aliran informasi dan material dalam proses produksi. Dengan pendekatan visual, tim dapat identifikasi langkah-langkah yang tidak memberikan nilai tambah, lalu menghilangkannya.
Hasilnya adalah aliran kerja lebih ramping dan bebas dari bottleneck.
Analisis Takt Time
Takt time adalah waktu yang dibutuhkan untuk produksi satu unit produk berdasarkan permintaan pelanggan dan kapasitas yang tersedia. Analisis Takt Time membantu perusahaan memahami kapasitas maksimum, ketersediaan tenaga kerja, serta keterbatasan peralatan.
Rumus Takt Time:

Dengan mengoptimalkan Takt Time, perusahaan bisa identifikasi bottleneck, menyesuaikan beban kerja, dan menjaga keseimbangan produksi.
Studi Kasus: Pabrik Makanan Ringan

Sebuah pabrik makanan ringan terkemuka di Indonesia menghadapi bottleneck pada proses pengumpulan data produksi yang masih manual. Proses ini memakan waktu lama, mengakibatkan tingginya cacat produk, downtime mesin, serta nilai OEE yang rendah.
Machine Vision Indonesia membantu dengan digitalisasi data OEE dan dashboard real-time menampilkan kondisi shop floor secara menyeluruh. Hasilnya, pabrik ini berhasil meningkatkan OEE hingga 6% dan menghilangkan bottleneck utama dalam pengumpulan data produksi.
Baca selengkapnya di sini.
Kesimpulan
Analisis bottleneck menjadi elemen penting di strategi transformasi digital industri. Dengan analisis tepat, perusahaan dapat mengurangi pemborosan, meningkatkan OEE, serta mempercepat adopsi teknologi industri 4.0.
Jika perusahaan Anda menghadapi tantangan bottleneck dan ingin membangun solusi digital yang tepat, Machine Vision Indonesia siap menjadi partner dalam transformasi digital industri dengan pengalaman lebih dari 7 tahun yang telah membantu industri menghubungkan manusia, proses, dan mesin menjadi solusi digital yang terukur.
Hubungi kami untuk konsultasi gratis dan temukan solusi terbaik untuk industri Anda.
Pertanyaan Seputar Analisis Bottleneck di Produksi
Apa itu bottleneck dalam produksi?
Bottleneck adalah hambatan dalam alur produksi ketika dalam satu tahap memiliki kapasitas lebih rendah dibanding tahapan lainnya. Hal ini mengakibatkan keterlambatan output, downtime mesin tinggi, hingga efisiensi operasional menurun.
Apa penyebab utama bottleneck dalam produksi?
Penyebab bottleneck bisa berasal dari komunikasi manual yang lambat, pencatatan data produksi secara manual, mesin usang, keterbatasan tenaga kerja terampil, hingga proses kerja yang tidak optimal.
Apa dampak bottleneck bagi perusahaan?
Bottleneck dapat menurunkan produktivitas, memperpanjang lead time, meningkatkan biaya operasional, menurunkan moral karyawan, hingga menyebabkan kerugian finansial dalam jumlah besar.
Bagaimana cara menganalisis bottleneck di lantai produksi?
Perusahaan bisa melakukan analisis menyeluruh terhadap alur produksi, mengumpulkan data real-time dari mesin dan operator, serta menggunakan metode analisis seperti DMAIC, Fishbone Diagram, Plan-Do-Check-Act, Root Cause Analysis, Theory of Constraints, Value Stream Mapping, 5S Framework, atau Analisis Takt Time.
Bagaimana teknologi membantu mengatasi bottleneck produksi?
Dengan digitalisasi data dan penggunaan real-time dashboard, manajer produksi dapat memantau kondisi lantai produksi secara langsung, mengidentifikasi hambatan lebih cepat, dan mengambil tindakan pencegahan sebelum masalah semakin besar.



