Search
  • Machine Vision Indonesia

Metaverse: Gimmick vs Reality


Setelah sebelumnya hype teknologi kecerdasan buatan, dan virtual reality, kini dunia sedang diramaikan oleh Metaverse. Kecanggihan teknologi saat ini seolah mengubah dunia nyata menjadi science-fiction seperti dalam film dan game. Namun, metaverse yang ada saat ini lebih fokus pada interaksi sosial, workplace collaboration dan acara virtual. Banyak perusahaan yang telah mulai membangun metaverse mereka sendiri, mulai dari workplace collaboration berupa replika digital dari ruang kantor hingga menciptakan acara virtual seperti konser musik.


Jadi, apa itu metaverse? Apa manfaatnya? Apakah sepadan dengan hype-nya?


Konsep metaverse sebenarnya sudah ada sejak lama. Beberapa video game multiplayer seperti Fortnite, Roblox, dan Minecraft serta film Ready Player One dan The Matrix telah mengusung konsep metaverse secara imajinasi. Metaverse adalah replikasi dunia nyata menjadi digital 3D yang memungkinkan penggunanya dapat berinteraksi dan bersosialisasi secara real-time di manapun ia berada. Bedanya, metaverse saat ini berkembang dan dapat digunakan secara nyata dalam banyak bidang kehidupan sehari-hari seperti jejaring sosial, pendidikan, perdagangan, hiburan, permainan, bahkan manufaktur sekalipun. Baca juga: Metaverse di Manufaktur: Hype Sesaat atau Realita Masa Depan? Lalu, apa yang membuat Metaverse tiba-tiba booming?

Apakah karena terobosan revolusi teknologi, atau hanya gimmick dari Meta (dulunya Facebook) belaka?

Singkatnya adalah, Pandemi.

Menurut Emma Chiu dari Wunderman Thompson, adanya pandemi Covid-19 mempercepat keinginan khalayak umum untuk tetap terhubung lebih mendalam dengan cara yang asyik, menyenangkan dan memuaskan. Mengingat awal-awal pandemi berlangsung memunculkan peraturan baru seperti social distancing atau pembatasan sosial.


Sebelumnya pada tahun 2003 sudah ada upaya untuk mewujudkan konsep metaverse, namun saat itu keadaan dan pasar dirasa masih belum siap sehingga belum mampu untuk diwujudkan. Namun saat ini, dimana internet dan berbagai macam teknologi memberikan berbagai akses kemudahan, ditambah dengan pandemi mendukung terwujudnya konsep metaverse dari yang sebelumnya.


Apakah kita sudah siap untuk metaverse, atau hanya gimmick?

Wacana tentang metaverse memang menyuguhkan banyak manfaat dengan cara yang tidak biasa. Metaverse memungkinkan user menghadiri acara, memberi layanan dan barang dan melakukan lebih banyak aktivitas dengan cara yang tidak pernah terbayangkan seebelumnya. Namun, metaverse bukanlah sesuatu yang muncul dan booming dapat terwujud dengan mulus tanpa tantangan. Implementasinya tidak mudah, untuk melakukannya diperlukan persyaratan teknologi yang besar, berlaku untuk semua orang yang ingin menggunakannya. Mari kita ambil contoh di India, negara dengan jumlah penduduk yang tidak terkoneksi internet terbesar di dunia. Di mana konsep internet baru saja diperkenalkan dan belum tersedia secara luas. Belum lagi Metaverse membutuhkan kecepatan transmisi data yang tinggi dan perangkat dengan spesifikasi tinggi. Menurut Anda, apakah mereka sudah siap memasuki Metaverse? Pertimbangan yang kedua, jika semuanya dilakukan secara virtual dan berkembang menjadi suatu kebiasaan baru meskipun pandemi telah berakhir, apakah tidak akan berdampak buruk pada budaya dan hubungan manusia sebagai makhluk sosial di dunia nyata? Apakah tidak akan menguras kehidupan bermasyarakat di dunia nyata? Tantangan terbesar lainnya dalam Metaverse adalah masalah keamanan dan privasi. Seberapa amankah metaverse itu? Mengingat beberapa platform sosial seperti YouTube, Facebook, Zoom, WhatsApp pernah mengalami kontroversi terkait risiko privasi dan keamanan.


Teknologi saat ini telah berkembang sedemikian rupa. Beredarnya mobil listrik hingga perjalanan menjelajahi luar angkasa saat ini perlahan dikomersialkan. Sedangkan Metaverse, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk dapat digunakan secara masif di seluruh dunia. Berbicara tentang dampaknya, akan selalu ada hal positif dan negatif untuk segala hal. Tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Perlahan, hanya waktu yang dapat menunjukkan apakah Metaverse akan menguntungkan atau tidak.


0 comments