Cari
  • Atika A

Strategi Nestle Tetap Beroperasi di Tengah Covid



Tahun 2020, tahun yang terasa sangat surealis. Wabah Coronavirus tiba-tiba menjangkit seluruh dunia. Upaya pembatasan pergerakan manusia terjadi di mana-mana, memberi dampak pada aktivitas perekonomian yang melemah. Banyak bisnis yang terguncang akibat peristiwa ini. Segala upaya dilakukan untuk bertahan, mulai dari efisiensi sampai transformasi. Bahkan tidak sedikit pula yang memutuskan berhenti beroperasi.


Produsen makanan dan minuman raksasa asal Swiss, Nestlé juga ikut melakukan penyesuaian. Pandemi membuat pergerakan kita terbatas. Sangat tidak mudah untuk bisa melakukan perjalanan jauh, apalagi perjalanan lintas negara. Hal ini membuat Nestlé harus mencari cara agar 400 lebih pabrik yang berlokasi di berbagai negara bisa tetap beroperasi untuk memenuhi kebutuhan konsumen.


Cara yang ditempuh Nestlé untuk mengatasi masalah ini yaitu melakukan akselerasi penggunaan teknologi. Lewat teknologi Augmented Reality (AR), Nestlé memanfaatkannya untuk mendukung kegiatan produksi, R&D dan agar bisa tetap terhubung dengan supplier.


Baca juga:


Selama ini, teknologi Augmented Reality masih sebatas backup, penggunaannya masih belum dioptimalkan. Tapi sejak terjadi COVID-19, AR mulai dimanfaatkan sebagai media untuk melakukan dukungan teknis dan training secara remote, serta sebagai media untuk menghubungkan orang-orang di pabrik-pabrik di seluruh dunia. Melalui penggunaan peralatan seperti remote desktop, smart glasses, 360 degree cameras dan 3D software, para ahli di Nestlé bisa menyelesaikan pekerjaannya tanpa harus meluncur ke lokasi.


Teknologi AR sudah terbukti dalam mendukung penyelesaian proyek-proyek seperti untuk set-up dan desain ulang lini pabrik, pekerjaan pemeliharaan mesin yang vital dan pemeriksaan peralatan dengan supplier. Banyak kasus yang sudah terselesaikan berkat penggunaan AR untuk menyelesaikan pekerjaan secara remote. Contohnya tim R&D di Swiss yang secara remote membantu memperbarui dan menginstal lini produksi serta teknologi baru untuk pabrik susu siap minum yang berlokasi di Thailand. Berkat adanya AR, proyek ini bisa selesai lebih awal dari jadwal yang diperkirakan.


Mereka juga mendukung pemasangan jalur produksi baru untuk sereal bayi di Cina. Selain itu, tim R&D di Inggris bisa bekerja dengan supplier untuk mendesain ulang juga menguji cetakan baru untuk produk KitKat. Contoh lain yakni aktivitas maintenance di pabrik-pabrik di Kolombia dan Ekuador, hingga menyiapkan lini makanan hewan peliharaan baru di Amerika Serikat.


Penggunaan AR selama pandemi ini sukses meningkatkan efisiensi di seluruh lini operasi serta memungkinkan para ahli menyelesaikan banyak proyek pada saat yang bersamaan. David Findlay, Global Head of Manufacturing Nestlé mengatakan bahwa pendekatan dukungan jarak jauh bukan hanya sekedar respon terhadap COVID-19. Kedepannya, dukungan secara remote akan menjadi cara baru dalam bekerja. Hal ini akan meningkatkan kecepatan dan efisiensi fasilitas dan mengurangi perjalanan ke lokasi Nestlé,


Setelah membaca dari apa yang dilakukan Nestlé, kita sekali lagi menemukan potensi yang dimiliki oleh sepupu dari Virtual Reality (VR) ini. Memang dalam tahap pengembangannya tidak mudah. Tetapi jika kita melihat manfaat kedepannya, AR akan memberikan kemudahan, apalagi untuk perusahaan dengan pabrik yang tersebar di berbagai lokasi.



Referensi:

https://www.nestle.com/media/news/nestle-factory-support-augmented-reality


MACHINE VISION
LINKS
ABOUT

lanius@machinevision.global

+62 821 4369 4139

+62 877 5339 3797

Jalan Baruk Utara X no. 37 Perum Pondok Nirwana, Rungkut

Surabaya, Indonesia

SOCIAL
  • White Instagram Icon
  • White LinkedIn Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon

© 2020 by Machine Vision Indonesia