Cari
  • Atika A

Menghadapi Tantangan Inklusi Digital di Era New Normal



Pandemi COVID-19 telah melemahkan sektor manufaktur dalam negeri selama berbulan-bulan. Para pelaku bisnis manufaktur berusaha mencari jalan keluar, merombak model bisnis dan merancang strategi untuk bisa meminimalisir dampak yang dirasakan. Digitalisasi pada akhirnya menjadi yang paling banyak dilirik dan dijalankan oleh bisnis dari berbagai sektor dan skala.


Adanya Coronavirus telah membuat transformasi ke industri 4.0 yang awalnya hanya menjadi obrolan santai, rencana yang tak kunjung disusun dan sekedar angan-angan setelah makan siang akhirnya mulai serius digodok. Di beberapa perusahaan dimana transformasi digital telah menjadi agenda yang awalnya bisa direalisasikan beberapa tahun ke depan mulai dipercepat. Segala upaya digitalisasi dari yang sederhana hingga yang kompleks mulai dikerjakan hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.


Baca juga: UMKM Siap Gunakan Teknologi untuk Membangun Resilience


Bahkan, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim menyatakan bahwa penerapan industri 4.0 di manufaktur berperan penting untuk meningkatkan utilisasi pabrik, terlebih pada kondisi pandemi COVID-19.


Di samping percepatan digital yang menjadi blessing in disguise, perusahaan dan pemerintah dihadapkan oleh tantangan lain yaitu inklusi digital. Sebuah celah yang terbentuk akibat tidak meratanya akses digital bagi semua orang. Hal ini tentunya sangat menghambat aktivitas manusia, terutama mereka yang harus melakukan remote working. Tidak semua orang memiliki akses internet yang memadai di tempat mereka tinggal. Bahkan, orang-orang yang telah memiliki akses home internet sekalipun memiliki kesenjangan di kecepatan broadband yang tidak stabil.


Dunia pasca-COVID-19, tanpa diragukan lagi adalah dunia yang lebih digital. Maka dibutuhkan rencana untuk menjembatani permasalahan jangka panjang terkait inklusi digital ini. Dibutuhkan pula investasi modal yang signifikan dan perencanaan yang komprehensif. Tentunya pemerintah harus turut andil, berperan memberi bantuan dana untuk mendukung peningkatan drastis dalam penggunaan internet ketika negeri ini bergerak maju untuk menghadapi new normal.


Untuk mengatasi permasalahan ini, World Economic Forum bersama World Bank dan beberapa petinggi dari berbagai negara membentuk sebuah inisiatif yaitu Essential Digital Infrastructure and Services Network (EDISON). Komunitas ini mengembangkan buku pedoman strategis untuk menyusun serangkaian tindakan jangka menengah hingga jangka panjang untuk mempercepat pengembangan digital dan menghadirkan peluang pertumbuhan yang tak terduga.


Kerja sama antara sektor swasta dan sektor publik sangat penting agar agenda inklusi digital pasca COVID-19 bisa direalisasikan dengan benar dan sesuai target. Banyak petinggi negara lain yang mengakui bahwa cara untuk mempercepat pemulihan adalah dengan menjadikan konektivitas sebagai inti dari semua program kerja yang diprioritaskan.


Berikut merupakan beberapa prioritas untuk mencapai transisi digital yang tepat

  1. Menentukan dan menerapkan strategi digital nasional secara menyeluruh di semua sektor dan memberikan dana untuk merangsang investasi digital di daerah-daerah yang kurang terjangkau.

  2. Mempersiapkan sebagian budget pemulihan untuk mendanai investasi infrastruktur di area-area yang kurang terjangkau, serta digitalisasi untuk sektor-sektor lain, seperti pendidikan, layanan kesehatan, dan layanan keuangan.

  3. Memfasilitasi digitalisasi di UKM melalui pemberian langsung ke UKM terkait.

Strategi-strategi tersebut hanya bisa terwujud apabila sektor publik dan swasta saling bekerja sama, menjalankan tugas dengan maksimal sesuai peran masing-masing. Ketika semua pihak berkolaborasi mewujudkan lingkungan digital yang lebih baik, maka kita akan siap menghadapi era baru dunia digital.



Referensi:

Accelerating Digital Inclusion In the New Normal: Playbook July 2020, World Economic Forum

https://www.weforum.org/agenda/2020/07/here-are-3-ways-to-close-digital-gaps-and-kickstart-recovery

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200728075612-92-529589/kemenperin-dorong-teknologi-40-pada-industri-mamin


MACHINE VISION
LINKS
ABOUT

lanius@machinevision.global

+62 821 4369 4139

+62 877 5339 3797

 

Jalan Ir. Soekarno No. 487

Surabaya, 60115

Indonesia

SOCIAL
  • White Instagram Icon
  • White LinkedIn Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon

© 2020 by Machine Vision Indonesia