Search
  • Machine Vision Indonesia

Kenapa Perusahaan Susah Mengadopsi IoT? 5 Solusi Implementasi IoT



Potensi dan peluang yang dihadirkan oleh teknologi terkoneksi terlihat semakin jelas, terutama di dunia pasca COVID-19. Untuk pengguna akhir, Internet of Things (IoT) menawarkan peluang tanpa batas di setiap aspek pembangunan dan manajemen SDM. Dari memesan barang, mengotomatisasi sistem, hingga memberi penghematan biaya dan energi, IoT dapat mengubah cara Anda beroperasi untuk menjadi lebih baik. Dan ketika perusahaan mulai berpindah ke dunia pasca-Covid, IoT dapat menjadi pintu gerbang untuk memenuhi tanggung jawab baru.


Namun, apa tantangan dari implementasi IoT?


Peluang IoT ini mungkin terlihat sangat menjanjikan dan tingkat penyerapannya di Indonesia pun meningkat. Tapi sayangnya masih banyak perusahaan di Indonesia yang masih enggan untuk merangkul teknologi IoT ini. Banyak faktor yang membuat mereka bersikap demikian baik dari sisi SDM, biaya maupun infrastruktur. Di bawah ini dibahas beberapa faktor yang menghambat adopsi IoT perusahaan di Indonesia dan bagaimana cara mengatasinya.


1. Kurangnya SDM yang menguasai skill IoT

Masih ada sikap yang melekat bahwa IoT bukan untuk perusahaan mereka, atau mereka merasa belum membutuhkannya. Jika perusahaan Anda memiliki kondisi seperti ini, Anda bisa memulai dari pilot project yang kecil dan merekrut atau melatih karyawan internal Anda.


2. Biaya

Adopsi teknologi IoT, seperti yang kita semua tahu, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun jika diimplementasikan dengan pengelolaan yang baik, investasi IoT yang kecil pun dapat berdampak positif pada laba perusahaan. Data yang mengidentifikasi penggunaan energi yang terbuang, misalnya, dapat secara langsung menciptakan penghematan biaya melalui kontrol otomatis untuk pemanas, ventilasi, dan pendingin udara.


3. Risiko keamanan

Siapa yang tidak khawatir tentang masalah keamanan data? Apalagi skala perusahaan yang tentunya memiliki data yang sangat rahasia. Data jauh lebih aman disimpan di platform cloud internet daripada di komputer pribadi. Tingkat enkripsi standar untuk sebagian besar sensor pintar, produk yang terhubung dengan IoT adalah 128-bit, yang diyakini akan membutuhkan waktu bahkan untuk program komputer terpintar sekitar 100 miliar tahun untuk dipecahkan. Jika ini adalah halangan bagi perusahaan yang mengadopsi IoT, ini mungkin saat yang tepat untuk melihat infrastruktur IT perusahaan Anda secara keseluruhan.


4. Standar regulasi

Transparansi tentang standar peraturan tentang IoT masih kurang. Perusahaan membutuhkan pedoman yang jelas tentang siapa yang dapat mengakses data yang dikumpulkan oleh perangkat IoT, bagaimana data ini dapat dijual kepada pihak ketiga dan digunakan untuk membuat layanan dan produk baru.


5. Konektivitas

Menghubungkan perangkat dan data bersama-sama bisa tampak seperti tugas yang mustahil. Dengan semakin banyaknya sistem dan perangkat yang terhubung, perusahaan yang menerapkan solusi IoT harus memproses kumpulan data yang besar.


Pada akhirnya, perusahaan dapat memperoleh manfaat yang sangat besar dari data yang lebih banyak dan lebih akurat. Manfaat tersebut bisa berupa wawasan yang lebih baik, peningkatan efisiensi, pengoperasian yang lebih lancar serta pengambilan keputusan yang lebih tepat. Sudah saatnya perusahaan mulai memikirkan adopsi teknologi baru jika tetap ingin bersaing di era industri 4.0 pasca pandemi.


0 comments

Recent Posts

See All