top of page

Cara Menghitung Biaya Downtime Mesin dan Dampaknya terhadap Biaya Produksi

Writer: Machine Vision Indonesia
Machine Vision Indonesia
6 minutes ago
9 min read
cara menghitung biaya downtime mesin dan dampaknya

Ketika mesin produksi berhenti beroperasi, dampaknya tidak hanya terlihat dari waktu produksi yang hilang. Perusahaan juga dapat menanggung biaya tenaga kerja, perbaikan, material terbuang, hingga keterlambatan pemenuhan pesanan.


Namun, berapa besar kerugian yang sebenarnya timbul akibat downtime?


Untuk mengetahuinya, perusahaan perlu memahami komponen biaya yang terlibat dan cara menghitungnya berdasarkan kondisi operasional. Dengan perhitungan yang tepat, biaya downtime mesin dapat diukur secara lebih terstruktur sehingga perusahaan memiliki dasar untuk mengevaluasi efisiensi produksi dan menentukan prioritas perbaikan.


Jika ingin memahami faktor yang menyebabkan mesin berhenti beroperasi, baca juga artikel 5 Penyebab Downtime Mesin yang Sering Tidak Terdeteksi di Pabrik.


Artikel ini secara khusus membahas komponen biaya downtime, rumus perhitungan, contoh simulasi, serta cara mengukur dampaknya terhadap biaya produksi.


Daftar Isi


1. Apa Itu Biaya Downtime Mesin?

Biaya downtime mesin adalah total biaya atau kerugian finansial yang timbul ketika mesin atau peralatan produksi tidak dapat beroperasi sesuai jadwal yang direncanakan.

Downtime dapat terjadi karena berbagai kondisi, seperti kerusakan mesin, gangguan komponen, proses setup, keterlambatan material, atau aktivitas maintenance. Namun, tidak semua downtime memiliki dampak finansial yang sama.


Sebagai contoh, berhentinya mesin utama pada lini produksi dengan kapasitas tinggi dapat menghambat seluruh proses berikutnya. Sementara itu, downtime pada mesin yang memiliki unit cadangan mungkin tidak langsung mengurangi output produksi.


Karena itu, perusahaan perlu mengukur dampak downtime berdasarkan kondisi aktual, bukan hanya menghitung durasi mesin berhenti.


Secara umum, biaya downtime dapat mencakup:

  • Kehilangan output produksi selama mesin berhenti.

  • Biaya tenaga kerja selama proses produksi terganggu.

  • Biaya perbaikan dan penggantian komponen.

  • Biaya material yang rusak atau harus diproses ulang.

  • Biaya tambahan akibat keterlambatan produksi dan pemenuhan pesanan.


Memahami komponen tersebut menjadi langkah awal untuk menghitung dampak downtime terhadap biaya produksi.


2. Komponen Biaya yang Perlu Diperhitungkan

Sebelum menghitung biaya downtime, perusahaan perlu mengidentifikasi komponen biaya yang relevan dengan proses produksinya.


Tidak semua komponen harus muncul dalam setiap kejadian. Perhitungannya bergantung pada jenis mesin, karakteristik proses, dan dampak gangguan terhadap operasional.


A. Kehilangan Produksi (Production Loss)

Kehilangan produksi terjadi ketika mesin berhenti sehingga perusahaan tidak dapat menghasilkan produk sesuai kapasitas yang direncanakan.


Komponen ini dapat dihitung berdasarkan jumlah unit yang tidak dapat diproduksi selama downtime dan kontribusi finansial setiap unit.


Rumus sederhana:

Biaya kehilangan produksi = Jumlah output yang hilang × Nilai kontribusi per unit

Nilai kontribusi per unit dapat menggunakan contribution margin, yaitu harga jual dikurangi biaya variabel yang dapat dihindari ketika produk tidak diproduksi.


Pendekatan ini membantu menghindari kesalahan dalam menggunakan harga jual penuh sebagai nilai kerugian produksi.


B. Biaya Tenaga Kerja (Labor Cost)

Ketika mesin berhenti, operator dan teknisi mungkin tetap berada dalam jam kerja meskipun aktivitas produksi terganggu.


Biaya tenaga kerja yang relevan dapat mencakup:

  • Upah tenaga kerja selama waktu produksi terhenti.

  • Biaya lembur untuk mengejar target produksi.

  • Biaya tambahan teknisi atau tenaga kerja eksternal untuk penanganan gangguan.


Perlu diperhatikan bahwa upah reguler tidak selalu menjadi biaya tambahan akibat downtime. Untuk perhitungan kerugian, perusahaan sebaiknya membedakan biaya tenaga kerja yang tetap harus dibayar dari biaya tambahan yang benar-benar timbul karena gangguan tersebut.


C. Biaya Perbaikan dan Penggantian Komponen

Downtime akibat kerusakan mesin dapat menimbulkan biaya maintenance yang perlu diperhitungkan.


Contohnya meliputi:

  • Penggantian spare part.

  • Jasa teknisi atau kontraktor.

  • Biaya transportasi komponen.

  • Biaya peralatan dan material perbaikan.


Biaya ini dapat dicatat berdasarkan pengeluaran aktual untuk setiap kejadian kerusakan.


D. Biaya Produk Cacat dan Rework

Gangguan mesin juga dapat memengaruhi kualitas produk, terutama ketika proses produksi mengalami perubahan kondisi atau harus dihentikan dan dijalankan kembali.


Dampaknya dapat berupa:

  • Produk yang tidak memenuhi standar kualitas.

  • Material yang terbuang.

  • Produk yang membutuhkan proses pengerjaan ulang (rework).

  • Biaya inspeksi tambahan.


Perusahaan perlu mencatat jumlah produk cacat dan biaya penanganannya agar dampak kualitas akibat gangguan operasional dapat dihitung.


E. Biaya Keterlambatan Produksi

Downtime pada proses yang menjadi bottleneck dapat menghambat penyelesaian pesanan dan memengaruhi jadwal pengiriman.


Dalam kondisi tertentu, perusahaan mungkin perlu mengeluarkan biaya tambahan seperti:

  • Biaya pengiriman ekspres.

  • Penalti keterlambatan sesuai kontrak.

  • Biaya tambahan untuk produksi lembur.

  • Biaya pemindahan proses ke lini atau fasilitas lain.


Biaya ini perlu dihitung berdasarkan pengeluaran atau kewajiban finansial yang benar-benar timbul, bukan diasumsikan selalu terjadi setiap kali mesin berhenti.


3. Cara Menghitung Biaya Downtime Mesin

Setelah mengidentifikasi komponen biaya, perusahaan dapat mulai menghitung dampak finansial downtime secara bertahap.


Berikut metode perhitungan yang dapat digunakan.

Langkah 1: Hitung Durasi Downtime

Pertama, tentukan berapa lama mesin berhenti beroperasi.

Rumus:

Durasi Downtime = Waktu Mesin Kembali Beroperasi − Waktu Mesin Berhenti

Contoh:

  • Mesin berhenti: 10.00

  • Mesin kembali beroperasi: 12.30

  • Total downtime: 2,5 jam

Pastikan waktu yang digunakan berasal dari pencatatan aktual agar hasil perhitungan lebih akurat.


Langkah 2: Hitung Kehilangan Output Produksi

Selanjutnya, hitung jumlah produk yang tidak dapat dihasilkan selama mesin berhenti.


Rumus:

Output Hilang = Kapasitas Produksi per Jam × Durasi Downtime

Contoh:

Sebuah mesin memiliki kapasitas produksi 100 unit per jam dan mengalami downtime selama 2,5 jam.

Output yang berpotensi hilang:

100 unit × 2,5 jam = 250 unit.


Namun, angka tersebut merupakan estimasi kehilangan kapasitas. Output aktual yang benar-benar hilang perlu mempertimbangkan apakah produksi dapat dikejar kembali, apakah tersedia mesin alternatif, dan apakah permintaan produk tetap ada.


Langkah 3: Hitung Biaya Kehilangan Produksi

Setelah mengetahui jumlah output yang hilang, perusahaan dapat menghitung dampak finansialnya.


Rumus:

Biaya Kehilangan Produksi = Output Hilang × Contribution Margin per Unit

Contoh:

  • Output yang tidak dapat diproduksi: 250 unit.

  • Contribution margin per unit: Rp20.000.

Maka:

250 unit × Rp20.000 = Rp5.000.000


Artinya, potensi kontribusi yang hilang akibat gangguan tersebut mencapai Rp5 juta, dengan asumsi seluruh output yang hilang tidak dapat diproduksi kembali dan permintaan tetap tersedia.


Langkah 4: Hitung Biaya Tambahan Akibat Downtime

Selanjutnya, identifikasi pengeluaran tambahan yang muncul akibat gangguan mesin.


Misalnya:

Komponen Biaya

Nilai

Biaya perbaikan mesin

Rp1.500.000

Biaya lembur untuk mengejar produksi

Rp500.000

Biaya material tambahan

Rp300.000

Total biaya tambahan

Rp2.300.000

Nilai tersebut merupakan contoh ilustratif. Perusahaan perlu menggunakan data aktual dari catatan maintenance, produksi, dan keuangan.


Langkah 5: Hitung Total Biaya Downtime

Setelah seluruh komponen biaya dihitung, perusahaan dapat menjumlahkan biaya kehilangan produksi dan biaya tambahan yang relevan.


Rumus sederhana:

Total Biaya Downtime = Biaya Kehilangan Produksi + Biaya Tambahan Akibat Downtime

Menggunakan contoh sebelumnya:

Komponen

Nilai

Biaya kehilangan produksi

Rp5.000.000

Biaya perbaikan mesin

Rp1.500.000

Biaya lembur

Rp500.000

Biaya material tambahan

Rp300.000

Total biaya downtime

Rp7.300.000

Berdasarkan simulasi tersebut, satu kejadian downtime selama 2,5 jam menghasilkan estimasi dampak finansial sebesar Rp7,3 juta.


Angka ini merupakan ilustrasi perhitungan, bukan data aktual perusahaan.

Perlu diperhatikan bahwa perusahaan harus menghindari penghitungan ganda. Contohnya, jika biaya material sudah diperhitungkan dalam biaya produk cacat atau rework, biaya tersebut tidak boleh dijumlahkan kembali pada komponen lain.


4. Contoh Simulasi Biaya Downtime terhadap Biaya Produksi

Untuk memahami dampaknya secara lebih menyeluruh, berikut simulasi sederhana pada sebuah lini produksi.


Sebuah perusahaan manufaktur memiliki data operasional berikut:

Parameter

Nilai

Kapasitas produksi

100 unit/jam

Durasi downtime

2,5 jam

Output yang berpotensi hilang

250 unit

Contribution margin per unit

Rp20.000

Biaya kehilangan produksi

Rp5.000.000

Biaya perbaikan

Rp1.500.000

Biaya lembur

Rp500.000

Biaya material tambahan

Rp300.000

Total biaya downtime

Rp7.300.000

Misalnya, sebelum terjadi downtime, perusahaan memiliki target produksi sebesar 8.000 unit dengan biaya produksi sebesar Rp320.000.000.


Jika biaya downtime sebesar Rp7.300.000 dimasukkan sebagai dampak finansial tambahan dalam periode tersebut, maka total biaya yang tercatat menjadi:

Rp320.000.000 + Rp7.300.000 = Rp327.300.000


Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai ilustrasi penambahan beban finansial. Dalam praktik akuntansi biaya, perlakuan kehilangan kontribusi produksi dan biaya aktual dapat berbeda.


Jika output yang hilang berhasil dikejar kembali melalui produksi tambahan, perusahaan perlu menghitung biaya lembur, energi, material, dan sumber daya tambahan yang digunakan. Perusahaan juga perlu memastikan apakah biaya kehilangan produksi masih relevan untuk dihitung sebagai kerugian.


Dengan demikian, perhitungan biaya downtime sebaiknya disesuaikan dengan kondisi produksi dan metode pencatatan biaya perusahaan.


5. Dampak Downtime terhadap Biaya Produksi

Downtime dapat memengaruhi efisiensi biaya produksi melalui beberapa aspek. Dampaknya tidak selalu terbatas pada biaya perbaikan mesin, tetapi juga dapat memengaruhi pemanfaatan sumber daya dan biaya per unit produk.


A. Meningkatkan Biaya Produksi per Unit

Ketika mesin berhenti, jumlah output yang dihasilkan dapat menurun. Sementara itu, sebagian biaya tetap seperti penyusutan mesin, sewa fasilitas, dan biaya operasional tertentu tetap berjalan.


Akibatnya, biaya yang dialokasikan ke setiap unit produk dapat meningkat ketika volume produksi menurun.


Sebagai contoh, jika biaya produksi tetap sebesar Rp100 juta dialokasikan untuk 10.000 unit, biaya tetap per unit adalah Rp10.000.


Jika output turun menjadi 8.000 unit dengan biaya tetap yang sama, biaya tetap per unit meningkat menjadi Rp12.500.


Perhitungan ini menunjukkan bagaimana penurunan output dapat meningkatkan biaya tetap per unit.


B. Menurunkan Efisiensi Pemanfaatan Mesin

Downtime mengurangi waktu mesin tersedia untuk menjalankan proses produksi.

Hal ini dapat memengaruhi tingkat ketersediaan mesin (availability), salah satu komponen dalam pengukuran Overall Equipment Effectiveness (OEE).


Untuk memahami hubungan downtime dengan availability, performance, dan quality, perusahaan dapat membaca panduan lengkap OEE dari Machine Vision Indonesia.


C. Mengganggu Aliran Produksi

Pada lini produksi yang saling terhubung, berhentinya satu mesin dapat memengaruhi proses sebelum atau sesudahnya.


Misalnya, gangguan pada mesin yang menjadi bottleneck dapat menyebabkan penumpukan material di proses sebelumnya dan kekurangan pasokan pada proses berikutnya.


Kondisi ini dapat mengurangi kelancaran aliran produksi dan meningkatkan risiko keterlambatan penyelesaian pesanan.


D. Meningkatkan Kebutuhan Biaya Tambahan

Untuk mengejar target produksi, perusahaan mungkin perlu melakukan lembur, menggunakan mesin alternatif, atau mengatur ulang jadwal produksi.


Langkah tersebut dapat menimbulkan biaya tambahan yang sebenarnya dapat dihindari apabila gangguan mesin dapat ditangani lebih cepat.


6. Data yang Dibutuhkan untuk Menghitung Biaya Downtime secara Akurat

Akurasi perhitungan biaya downtime sangat bergantung pada kualitas data yang tersedia. Jika durasi berhenti, output produksi, atau biaya perbaikan tidak tercatat dengan baik, hasil perhitungan dapat menjadi kurang representatif.


Berikut data yang sebaiknya dikumpulkan oleh perusahaan:

Data

Kegunaan

Waktu mulai dan selesai downtime

Menghitung durasi mesin berhenti

Penyebab downtime

Mengelompokkan jenis gangguan

Kapasitas produksi mesin

Mengestimasi potensi output yang hilang

Output aktual

Membandingkan target dan realisasi produksi

Biaya produksi per unit

Mendukung analisis biaya produksi

Contribution margin

Menghitung kontribusi finansial dari output

Biaya spare part dan perbaikan

Menghitung biaya maintenance

Biaya lembur

Mengidentifikasi pengeluaran tambahan

Jumlah produk cacat dan rework

Mengukur dampak terhadap kualitas

Data pesanan dan pengiriman

Mengevaluasi dampak keterlambatan

Data tersebut idealnya berasal dari sistem yang saling terhubung, seperti sistem monitoring mesin, MES, CMMS, dan database produksi.


Sebagai contoh, Manufacturing Execution System (MES) dapat membantu perusahaan mengelola informasi produksi, termasuk output, status proses, dan performa lini. Sementara itu, sistem maintenance seperti CMMS membantu mengelola riwayat perbaikan dan aktivitas pemeliharaan aset.


Dengan pencatatan yang konsisten, perusahaan dapat membandingkan biaya downtime antarperiode, mesin, dan lini produksi.


7. Bagaimana Perusahaan Mengendalikan Biaya Downtime?

Menghitung biaya downtime merupakan langkah awal. Selanjutnya, perusahaan perlu menggunakan hasil perhitungan tersebut untuk menentukan prioritas perbaikan dan meningkatkan keandalan operasional.


Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan antara lain:

a. Identifikasi mesin dengan dampak finansial tertinggi

Prioritaskan mesin yang memiliki frekuensi gangguan tinggi, durasi downtime panjang, atau dampak besar terhadap output produksi. Mesin yang menjadi bottleneck juga perlu mendapatkan perhatian karena gangguannya dapat memengaruhi keseluruhan aliran produksi.


b. Evaluasi riwayat kerusakan dan maintenance

Catat frekuensi kerusakan, durasi perbaikan, komponen yang sering diganti, serta biaya maintenance. Informasi historis tersebut dapat membantu perusahaan mengevaluasi pola gangguan dan menentukan kebutuhan perawatan.


Perusahaan dapat mempertimbangkan penggunaan CMMS untuk membantu mengelola aktivitas maintenance, mulai dari work order, jadwal pemeliharaan, hingga histori aset.


c. Tingkatkan visibilitas kondisi mesin

Gunakan sistem monitoring untuk memperoleh informasi mengenai status mesin, parameter operasional, dan kejadian downtime. Visibilitas ini membantu tim terkait mengetahui kondisi peralatan dan menindaklanjuti gangguan dengan lebih terstruktur.


d. Integrasikan data produksi dan maintenance

Menghubungkan informasi produksi dengan data maintenance dapat membantu perusahaan memahami hubungan antara gangguan mesin, kehilangan output, dan biaya perbaikan.


e. Evaluasi biaya downtime secara berkala

Lakukan evaluasi berdasarkan periode tertentu untuk melihat perubahan total downtime, biaya yang timbul, serta mesin dengan kontribusi kerugian terbesar.


Hasil evaluasi dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas maintenance dan rencana peningkatan keandalan aset.


Kesimpulan

Biaya downtime mesin tidak hanya berasal dari pengeluaran untuk memperbaiki peralatan. Gangguan operasional juga dapat menimbulkan kehilangan output, peningkatan biaya tenaga kerja, produk cacat, hingga biaya tambahan akibat keterlambatan produksi.


Dengan menghitung setiap komponen biaya secara terstruktur, perusahaan dapat memahami dampak finansial downtime terhadap biaya produksi dan menentukan area operasional yang perlu diprioritaskan.


Namun, perhitungan tersebut membutuhkan data yang akurat dan konsisten, mulai dari durasi downtime, output produksi, hingga riwayat maintenance.


Machine Vision Indonesia menyediakan solusi digital untuk mendukung monitoring dan pengelolaan operasional industri, seperti MES (Manufacturing Execution System dan solusi CMMS (Computerized Maintenance Management System) untuk pengelolaan aktivitas maintenance. Semua solusi bisa di sesuaikan oleh kebutuhan operasional Anda.


Melalui integrasi informasi operasional, perusahaan dapat memperoleh visibilitas yang lebih baik terhadap aktivitas produksi dan kondisi peralatan.


Hubungi Machine Vision Indonesia untuk mendiskusikan kebutuhan digitalisasi monitoring produksi dan maintenance di perusahaan Anda.


Pertanyaan Seputar Menghitung Biaya Downtime Mesin

1. Bagaimana cara menghitung biaya downtime mesin?

Biaya downtime dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya kehilangan produksi dan biaya tambahan akibat gangguan, seperti biaya perbaikan, lembur, material terbuang, serta biaya keterlambatan jika memang terjadi.

2. Apa saja komponen biaya downtime?

Komponen biaya downtime dapat mencakup kehilangan kontribusi produksi, biaya perbaikan, biaya tenaga kerja tambahan, produk cacat, rework, serta biaya akibat keterlambatan produksi.

3. Apa perbedaan downtime dan production loss?

Downtime adalah periode ketika mesin atau proses produksi berhenti beroperasi, sedangkan production loss adalah kehilangan output yang terjadi akibat kondisi tersebut. Durasi downtime tidak selalu sama dengan jumlah produksi yang benar-benar hilang karena output mungkin dapat dikejar kembali.

4. Apakah semua downtime menyebabkan kerugian finansial?

Tidak selalu dalam jumlah yang sama. Dampak finansial bergantung pada kapasitas produksi yang terdampak, ketersediaan mesin alternatif, kemampuan mengejar output, permintaan produk, serta biaya tambahan yang timbul.

5. Bagaimana cara mengurangi biaya downtime mesin?

Perusahaan dapat mengidentifikasi mesin kritis, mengevaluasi riwayat kerusakan, meningkatkan monitoring kondisi peralatan, memperbaiki perencanaan maintenance, dan mengintegrasikan data produksi dengan aktivitas maintenance.

Comments


Ready to digitally transform your company? 

Discuss with us how our solution enables future digital growth in your company 

Screenshot_2022-11-14_at_11.54.24_AM-removebg-preview.png
bottom of page