Search
  • Machine Vision Indonesia

6 Pola Pikir Problem Solving Menghadapi Ketidakpastian


Situasi merebaknya covid-19 yang menjadi pandemi global benar-benar membuat seluruh lapisan masyarakat dihantui ketidakpastian. Ketidakpastian ini menjurus ke berbagai situasi, baik dari sisi ekonomi, politik, pekerjaan hingga kesehatan fisik dan mental kita. Pada umumnya, semua manusia menginginkan rasa aman. Rasa aman mampu membuat manusia senang dan nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sebaliknya, rasa ketidakpastian seringkali membuat seseorang cemas, stress dan khawatir akan masa depan. Lama kelamaan, keadaan ini akan menguras emosi dan terjebak pada pemikiran yang tak berujung. Bagaimana kita bisa belajar menghadapi ketidakpastian ini?


Agar bisa siap menghadapi ketidakpastian, coba lakukan pendekatan berikut:

  1. Kembangkan rasa ingin tahu Jika Anda memiliki segudang kekhawatiran tentang masa depan, pekerjaan ataupun sesuatu yang tidak pasti, cobalah berhenti sejenak. Lalu tanyakan pada diri anda sendiri, mengapa hal ini bisa terjadi? mengapa saya bisa berpikir seperti itu? teruslah menggali pertanyaan hingga Anda dapat mengidentifikasi akar masalahnya. Jika sudah jelas masalahnya, cobalah membeberkan sejumlah solusi yang bisa Anda lakukan. Lalu, kembali pada pertanyaan: Mengapa. Mengapa solusi yang ini terbaik? Mengapa tidak yang itu? Analisis pola pikir ini akan membantu Anda mendapat pencerahan dan solusi yang lebih jelas, dibandingkan memupuk segudang kekhawatiran dan terjebak pada pemikiran yang buntu tanpa solusi. Dalam hal digitalisasi misalnya, anda harus memulai dengan mengeksplor dan mengurutkan banyak pertanyaan secara sistematis seperti, untuk memulai digitalisasi, apakah harus diterapkan secara langsung ke seluruh departemen? apakah bisa jika dimulai dari urgensitas departemen? bagaimana langkah pertama untuk memulainya? bagaimana menyiapkan SDM perusahaan agar mantap dalam agenda digitalisasi? Dengan mencari jawaban tiap pertanyaan anda akan menemukan pola untuk mengarah ke solusi berikutnya.

  2. Tolerir ambiguitas Perlu diketahui, ketidaksempurnaan adalah hal yang lumrah, dan sangat wajar. Kenyataannya, sebagian besar pemecahan masalah yang baik adalah dengan melewati banyak percobaan dan kesalahan. Ibaratnya, tidak ada seseorang yang terlahir langsung sempurna. Begitupun dengan proses problem solving, kita harus akrab dengan istilah gagal, salah dan coba-coba. Sebagai alternatifnya, tanyakan hal ini: Apa yang bisa dipercayai agar hal ini benar? Menyambung case sebelumnya, jika anda sudah memecahkan mitos bahwa digitalisasi harus serentak semua departemen, maka anda harus mencari bukti lain. Seperti, ternyata perusahaan A dapat sukses digitalisasi hanya dengan memulai dari 1 departemen saja, dan departemen itu adalah departemen yang paling membutuhkan agenda digitalisasi. Maksudnya, departemen yang mempunyai banyak problem padahal departemen itu sangat vital bagi kelangsungan perusahaan.

  3. Jadilah “mata capung” Capung memiliki 2 mata besar yang merupakan gabungan dari 30.000 segi. Setiap segi ini mengarah ke berbagai sudut yang berbeda. Berkat segi-segi ini, sudut pandang capung hampir mencapai 360 derajat. Poinnya, dalam mempertimbangkan suatu solusi, jangan hanya fokus pada 1 sudut pandang saja, sebaiknya ambil sebanyak-banyaknya dari perspektif yang ada. Dengan memperlebar perspektif, kita akan dengan mudah mengenali ancaman dan peluang yang belum tentu ditemukan sebelumnya. Perihal digitalisasi, perusahaan tidak harus fokus pada penemuan teknologi yang tepat saja. Masih ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan seperti kesiapan SDM, kapabilitas vendor dan internal finansial perusahaan.

  4. Kejar perilaku yang terjadi Perilaku yang terjadi adalah apa yang sebenarnya terjadi pada suatu waktu dan tempat, bukan perilaku potensial ataupun yang masih diprediksi. Terus mencoba, bereksperimen dan Anda akan menemukan pola “cepat gagal” untuk meraih suatu hal yang lebih baik. Anda harus berani memasuki ruang baru yang tidak pasti, membangun informasi, kepercayaan diri saat mengambil langkah maju. Apapun poin yang anda dapat dari penemuan masalah digitalisasi sebelumnya, anda harus terus menggali lebih dalam untuk memunculkan lebih banyak alasan logis lainnya.

  5. Manfaatkan kecerdasan kolektif dari banyak pihak Mulailah berdiskusi dengan orang-orang di luar circle Anda. Hal ini akan menjangkau beragam pengalaman dan keahlian dari luar circle Anda, yang akan memberikan lebih banyak wawasan tentang masalah yang sedang dihadapi. Semakin luas lingkaran informasi yang didapat, maka semakin besar pula mendapatkan solusi yang baru dan lebih kreatif. Sebagai contoh, perusahaan telah mantap untuk digitalisasi shop floor, namun muncul keraguan lain seperti masalah platform digitalisasi, apakah perusahaan harus membeli platform yang kurang sesuai dengan sistem internal? tapi dengan membeli platform, perusahaan dapat melakukan digitalisasi dalam waktu dekat. Atau, harus membangun platform dari awal yang sesuai dengan sistem internal perusahaan, namun dengan waktu tunggu yang lebih lama? Temukan jawabannya disini: Low Code Percepat Transformasi Digital Anda dapat berkonsultasi dengan pihak konsultan transformasi digital ataupun dengan vendor penyedia platform digitalisasi seperti Machine Vision. Kami tentunya akan sangat terbuka untuk segala hal, termasuk untuk sekedar berdiskusi dengan anda.

  6. Perjelas aksi selanjutnya Sesuai dengan tujuan utama, pemecahan masalah ini adalah untuk membuat solusi menjadi jelas. Untuk mempraktekannya, mulailah dengan memperjelas tindakan yang harus diambil dari temuan pemecahan masalah. Jika menyangkut masalah tim, Anda dapat menjelaskan logika Anda secara jelas, mengusulkan solusi yang dapat didiskusikan dan disepakati bersama. Penting untuk menyampaikan argumen secara emosional dan logis, untuk menjelaskan bahwasannya solusi yang diusulkan sudah menengahi antara semua risiko dan peluang yang ada. Jika segala persiapan digitalisasi sudah matang, anda dapat mendiskusikan dengan para CXO lain untuk mencari jalan terbaik selanjutnya, dan dapat diimplementasikan dari tiap fungsional perusahaan. Baca juga: Perhatikan 5 Hal Ini Untuk menghindari Kegagalan Transformasi Digital

Beberapa pendekatan di atas dapat digunakan di semua keadaan untuk memecahkan masalah.Orang-orang yang hebat dalam problem-solving terlatih mengadopsi pola pikir yang terbuka, rasa ingin tahu yang tinggi dan disusul dengan mengikuti proses yang sistematis untuk memecahkan semua masalah. Karena seorang pemecah masalah yang hebat itu dibuat, terlatih, bukan dilahirkan.


0 comments