Search
  • Machine Vision Indonesia

Perhatikan 5 Hal Ini Untuk Menghindari Kegagalan Transformasi Digital


Semua sektor bisnis sedang mengalami masa sulit terdampak COVID 19, termasuk sektor perbankan. Kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian memberikan posisi yang kurang menguntungkan untuk bank regional atau bank di kelas menengah. Mereka harus bersaing dengan bank global besar yang terus membangun pangsa pasar. Di sisi lain, mereka juga harus menghadapi kepopuleran perusahaan fintech yang kian meningkat.


Sektor perbankan harus siap menghadapi berbagai tantangan potensi risiko dari eksternal maupun internal. Pemberlakuan social distancing untuk mengurangi penyebaran virus dan perkembangan teknologi yang masif turut menjadi tantangan. Dengan kebutuhan tatap muka yang dikurangi, hal ini menimbulkan kebutuhan interaksi digital dan meningkatkan ekspektasi nasabah akan layanan perbankan yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja dengan mudah dan cepat. Belum lagi perubahan model bisnis menjadi digital akan menimbulkan potensi risiko lain seperti perlindungan data nasabah dan juga adanya risiko serangan siber.


Beberapa fenomena di atas membuktikan adanya COVID-19 menahan aktivitas bisnis sekaligus mempercepat digitalisasi dan perubahan perilaku konsumen. Hasil akhirnya, sektor perbankan mengubah transformasi operasional mereka dengan pendekatan end to end yang berpusat pada pelanggan. Bagi bank skala menengah, transformasi saat ini menjadi sebuah keharusan, tidak hanya sekedar untuk meningkatkan produktivitas saja, namun juga menjadi strategi untuk dapat tetap bertahan.


Pertanyaannya, bagaimanakah cara mewujudkannya? Sedangkan menurut McKinsey 70% proses transformasi mengalami kegagalan. Jika berbicara terkait model bisnis digital mungkin akan menemukan beberapa istilah seperti perusahaan harus berinvestasi banyak dalam teknologi digital, harus menerapkan online channel, ataupun sekedar teknologi untuk otomatisasi tugas produksi. Namun, tahukah Anda? Ternyata hal-hal tersebut bukanlah menjadi penentu kesuksesan ataupun kegagalan transformasi digital.


Oleh karena itulah McKinsey menyarankan para manajemen, untuk tidak hanya fokus pada metrik keuangan dan operasional saja, tapi juga harus mengkritisi kesehatan perusahaan. Kunci utama dalam meningkatkan kesehatan perusahaan adalah berfokus pada pengembangan kemampuan—yaitu, membantu karyawan mempelajari tidak hanya keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaannya saja, tetapi juga keterampilan kepemimpinan dan manajemen dasar.

Para pemimpin seringkali menganggap soft skills seperti empati, komunikasi, disiplin adalah bawaan dari tiap individu. Nyatanya, soft skills dapat diasah melalui pembelajaran untuk menciptakan manajemen yang efektif. Berikut 5 pendekatan yang berperan penting dari proses transformasi yang sukses:

  1. Sebuah visi bersama dan budaya sukses Berinvestasi dalam pelatihan bukanlah ide yang buruk. Perusahaan dapat memberikan pelatihan kepada para manajemen dan semua karyawan yang berperan langsung dalam transformasi dalam hal kepemimpinan dan eksekusi dasar. Meski terlihat sepele, kepemimpinan transformasi mampu membangun bahasa yang sama dan cara kerja yang sama. Pelatihan ini turut memperluas kemampuan dasar dan menumbuhkan semangat, kolegialitas, dan pemahaman tentang nilai karyawan bagi perusahaan.

  2. Tetapkan target yang menantang dan inspiratif Penetapan target yang terlalu tinggi namun gagal bukanlah sebuah masalah. Namun, pencapaian target yang kurang ambisius bisa jadi bahaya besar. Para pemimpin harus berani set target dan aspirasi yang berani dan memotivasi karyawan untuk dapat meraih tujuan yang sebelumnya mereka pikir tidak mungkin.

  3. Menerapkan kepemimpinan yang melayani, dimulai dari top management Bagaimana para manajer mengelola bawahannya secara langsung akan memberikan dampak yang signifikan, tidak hanya pada kesejahteraan dan kesehatan tim mereka, tetapi juga keuntungan organisasi. Jadilah pemimpin yang lebih aktif mendengarkan. Dibandingkan mempertahankan gaya kepemimpinan komando-dan-kontrol tradisional, lebih baik merubahnya dalam gaya kepemimpinan dengan sikap yang lebih gesit, konsultatif, dan kolaboratif.

  4. Fokus pada ‘bagaimana’ dibandingkan ‘apa’ Sebagai contoh: Perusahaan menginginkan perubahan kinerja yang cepat dan berkelanjutan. Bagaimana caranya? Dibandingkan mendirikan kantor manajemen proyek atau menyiapkan program pelacakan, lebih baik fokus pada pada isu internal seperti bagaimana menyelaraskan karyawan di seluruh organisasi, bagaimana memotivasi karyawan untuk melakukan perubahan. Pada akhirnya, transformasi adalah tentang mengatur karyawan di balik nilai-nilai bersama untuk memberikan perkembangan dan hasil yang berkelanjutan.

  5. Mengukur hasil “soft stuff” Setiap pemimpin pasti memahami betapa sulitnya mendapatkan hasil maksimal dari tiap karyawannya. Dalam transformasi skala besar, banyak orang yang mungkin merasa terancam oleh perubahan dan tidak yakin apa artinya peran mereka dalam organisasi. Inilah mengapa sangat penting tidak hanya sekedar meningkatkan komunikasi, keterampilan kepemimpinan, pelatihan, dan kesehatan organisasi, tetapi juga untuk mengukur hasil dari keseluruhan soft stuff.

Sementara perubahan terus mengintimidasi bisnis di masa sulit dan ketidakpastian saat ini, pasti terdapat celah kemungkinan untuk meningkatkan peluang keberhasilan. Berinvestasi dalam teknologi baru dan merestrukturisasi organisasi agar selaras dengan perubahan memanglah penting. Namun, langkah pertama terbaik adalah fokus pada elemen transformasi yang soft untuk membangun organisasi yang sehat dan adaptif.

0 comments