Cari
  • Atika A

Membangun Supply Chain yang Lebih Tangguh di tengah COVID-19

Diperbarui: 7 hari yang lalu



Pandemi virus Corona, menurut banyak pakar merupakan krisis terparah sepanjang sejarah modern. Tak hanya menyebabkan banyak korban, tetapi juga membawa disrupsi bagi tatanan hidup manusia, perekonomian serta bisnis global. Aktivitas perekonomian lumpuh, bisnis dan supply chain pun terhambat.


Salah satu yang paling merasakan dampak negatif pandemi ini tidak lain adalah industri manufaktur. Lumpuhnya industri manufaktur sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional turut menjadi penyebab terhambatnya laju perekonomian. Faktor supply chain menjadi satu dari sekian banyak tantangan yang harus dihadapi para pelaku industri manufaktur di tengah kondisi yang serba terbatas ini. Adanya COVID-19 membuka mata para pelaku bisnis bahwa supply chain mereka masih sangat rentan terhadap goncangan krisis global.


Disrupsi yang terjadi pada supply chain ini salah satunya disebabkan oleh lockdown yang membuat jangkauan aliran pasokan bahan baku dan distribusi finished goods terbatas. Kebijakan lockdown yang dilakukan banyak negara menghambat pasokan raw material bagi industri manufaktur dalam negeri. Contohnya seperti yang terjadi saat China melakukan lockdown. Produksi industri manufaktur merosot tajam karena kurangnya pasokan bahan baku untuk menjalankan produksi. Nilai ekspor pun ikut jatuh akibat akses yang ditutup.


Kondisi yang dialami Indonesia ini serupa dengan yang dialami oleh negara-negara di UK. Di negara-negara tersebut, industri manufaktur juga merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian. Hampir di seluruh daerah terdapat perusahaan manufaktur besar maupun kecil yang beroperasi. Permasalahan yang dihadapi terkait supply chain pun sama, yakni tentang transparansi, kekuatan dan stabilitas supply chain.


Baca juga: Digital Supply Chain, Jawaban atas Tantangan Supply Chain yang Semakin Dinamis


Merangkum dari hasil diskusi The Manufacturer bersama pelaku bisnis industri manufaktur skala besar dan kecil yang ada di UK, industri manufaktur saat ini sedang mencari cara untuk mempersingkat dan juga memperkuat aliran supply chain mereka. Yang menjadi konsen utama adalah besarnya biaya yang perlu dikeluarkan untuk pengadaan bahan baku di tengah keadaan yang serba sulit ini.


Untuk bisa membangun supply chain yang lebih tangguh, para pelaku industri manufaktur perlu merombak model bisnis yang ada saat ini, Sudah saatnya memikirkan pemanfaatan teknologi dalam aliran supply chain, saatnya go digital melalui perancangan digital supply networks (DSN). Dengan go digital, perusahaan bisa lebih terhubung dengan seluruh jaringan supply chain yang dimiliki. Memungkinkan adanya peningkatan visibilitas, kolaborasi, kelincahan, dan optimalisasi dari ujung ke ujung. Melalui pemanfaatan Internet of Things, artificial intelligence, robotika dan industrial automation dalam supply chain, pelaku industri manufaktur bisa lebih tanggap mengantisipasi dan memenuhi tantangan di masa depan.



Referensi

https://www.themanufacturer.com/articles/how-uk-smes-and-large-manufacturers-are-responding-to-covid-19/

https://www2.deloitte.com/global/en/pages/risk/articles/covid-19-managing-supply-chain-risk-and-disruption.html


MACHINE VISION
LINKS
ABOUT

[email protected]

+62 821 4369 4139

+62 877 5339 3797

 

Jalan Ir. Soekarno No. 487

Surabaya, 60115

Indonesia

SOCIAL
  • White Instagram Icon
  • White LinkedIn Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon

© 2020 by Machine Vision Indonesia