industrial IoT manufaktur
MACHINE VISION
LINKS
ABOUT

[email protected]

[email protected]l

+62 821 4369 4139

+62 877 5339 3797

 

Jalan Ir. Soekarno No. 487

Surabaya, 60115

Indonesia

SOCIAL
  • White Instagram Icon
  • White LinkedIn Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon

© 2017 by Machine Vision Indonesia

Cari
  • Rio Bagus

Perlahan tapi pasti, mantra Johnson & Johnson dalam transformasi digital


Image Courtesy: Reuters


Sebagai perusahaan berkelas dunia, Johnson & Johnson memiliki supply chain yang cukup rumit dengan detail pekerjaan yang banyak. Untuk melakukan transformasi digital akan membutuhkan waktu yang banyak dan tidak akan bisa selesai hanya dalam satu malam saja.


Bertajuk ‘Manufacturing of the future’ sebagai visi besar, Johnson & Johnson memiliki tiga fase dalam mengimplementasi teknologi industri 4.0 yakni develop & test (2016-2018), achieve critical mass (2018-2020), sustainable ecosystem (2020+). Johnson & Johnson memiliki pekerjaan rumah (PR) yang banyak untuk bisa mengintegrasikan ‘manufacturing for the future’ kepada cara mereka melakukan bisnis selama ini. Johnson & Johnson memetakan tiga hal yang harus dirubah bersama-sama demi mencapai kesuksesan; yakni teknologi, komunikasi dan manajemen perubahan, kompetensi dan kapabilitas organisasi. 3 hal tersebut menjadi landasan penting bagi keberhasilan dalam mengadopsi teknologi industri 4.0.


Beberapa tahun lalu, Johnson & Johnson memiliki target untuk bisa melakukan transformasi digital pada saat belum adanya standar atau benchmark yang tersedia di seluruh dunia dan Johnson & Johnson berani mengambil resikonya. Menciptakan inovasi dan melakukan tes pada sebuah teknologi pasti membutuhkan tenaga dan biaya yang banyak dan juga Johnson & Johnson dituntut untuk harus bisa mempertahankan standar supply chain yang selama ini sudah dijalankan tanpa mengecewakan customer.


Lalu pertanyaannya, bagaimana Johnson & Johnson bisa menyeimbangkan dua hal tersebut? Johnson & Johnson memulainya dari mengidentifikasi area mana yang bisa memberikan dampak yang paling besar saat menggunakan teknologi industri 4.0, lalu Johnson & Johnson mengeksekusinya dengan langkah perlahan namun pasti (tidak sekaligus) yang biasa mereka sebut “tests and learns” dan selalu belajar dari kesalahan yang terjadi.


‘Tests & learn’ memiliki tiga tahap untuk bisa dikatakan sebuah inovasi akan berhasil atau tidak. yang pertama adalah pembuktian teknologi dan berhitung seberapa besar dampak yang akan dihasilkan dari teknologi tersebut. Jika sudah terbukti, Johnson & Johnson akan mempelajari skill dan kapabilitas yang dibutuhkan bagi sumber daya manusianya untuk bisa menjalankan inovasi tersebut. Setelah mengetahui dan menyatakan sumber dayanya mumpuni untuk melakukan inovasi tersebut, Johnson & Johnson meningkatkan skalabilitas teknologi tersebut dan memperluas area implementasinya.


Lambat laun, kumpulan dari inovasi-inovasi kecil tersebut menjadi besar dan menjadi landasan perusahaan yang baru bagi operasi supply chainnya dan Johnson & Johnson menyebutnya OS atau operating system. Hingga akhirnya fase develop & test telah dilewati dengan baik diikuti dengan pengembangan kapabilitas sumber daya manusianya dan membangun jalur komunikasi yang baik antar departemen.


Pada fase kedua, achieve critical mass, Johnson & Johnson mulai berbicara tentang performance transformation dengan mengakselerasi dan meningkatkan tingkat implementasi di level enterprise. Lalu pada fase terakhir atau pada fase sustainable economy, diharapkan sumber daya manusianya dan transformasi digital sudah memasuki tahap matang dan siap untuk menghasilkan nilai lebih bagi perusahaan. Pada fase terakhir juga diprediksi akan menghasilkan sebuah model bisnis baru yang dapat meningkatkan tingkat kompetitif di level dunia.



Referensi:

Johnson & Johnson Supply Chain. 2017. Bart Talloen

https://www.jnj.com/innovation/3-digital-supply-chain-innovations-johnson-johnson-is-harnessing