Search
  • Machine Vision Indonesia

Memahami Nilai Penggerak 4.0 Tiap Perusahaan


Perkembangan banyak teknologi baru dalam industri 4.0 seperti artificial intelligence, kolaborasi robotika, atau augmented reality dapat menghasilkan peningkatan efisiensi yang signifikan dalam proses manufaktur. Dengan perkiraan potensi penciptaan nilai bagi produsen dan distributor sebesar USD 3,7 triliun pada tahun 2025, teknologi industri 4.0 membawa harapan besar untuk dapat membawa sektor manufaktur mencapai tingkat efisiensi produktivitas yang lebih besar daripada sebelumnya.


Namun beda dengan realitanya, hanya sekitar 30 persen perusahaan yang dapat “menangkap” dan memanfaatkan nilai dari solusi industri 4.0 saat ini. Semua perusahaan pasti menginginkan hasil terbaik bagi bisnisnya dengan melakukan banyak riset sebelum investasi secara pasti pada teknologi baru ini. Hal tersebut memanglah bijak, namun kebanyakan dari mereka melakukannya dengan pendekatan yang kurang tepat.


Alih alih melakukan pendekatan yang didominasi dengan membayangkan implementasi teknologi apa yang cocok kedepannya, lebih baik mengidentifikasi area yang memiliki dampak terbesar dan melacaknya menggunakan “penggerak” nilai industri 4.0. Untuk menjawab masalah ini, McKinsey merincinya dalam 2 fokus pertanyaan yaitu “where to focus” dan “how to scale”.


Where to focus? Terdapat tiga pola dasar pabrik yang menentukan keharusan produktivitasnya masing-masing. Setiap keharusan produktivitas mendefinisikan beberapa pendorong nilai utama yang relevan untuk menangkap dampak dan manfaat dalam skala besar.

  • Small-IoT Manufacturing Pendorong nilai utamanya adalah model data produk yang terintegrasi mulai dari teknik hingga commissioning, pemberdayaan pekerja dengan tools digital, dan pengoptimalan OEE berbasis data

  • Mass-customized production Pabrik yang memproduksi secara massal biasanya menjunjung tinggi throughput dan kualitas yang konsisten. Nilai pendorong dari teknologi 4.0 adalah closed control loops dengan inspeksi kualitas in-line berbasis sensor, fleksibilitas rute, penjadwalan, manajemen kinerja dan perluasan otomatisasi sampai ke perakitan akhir

  • High-volume production Penggerak utama untuk industri 4.0 dengan otomatisasi produksi sepenuhnya dan memaksimalkan OEE dengan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan bauran produk.

How to scale? Dalam pertanyaan ini akan menjawab bagaimana memobilisasi perusahaan, berfokus pada nilai dan berinovasi pada infrastruktur. Tiga prinsip utamanya yakni dengan:

  • Fokus pada pendorong nilai utama, bukan pada teknologinya karena teknologi sejatinya hanya berperan untuk mendukung terwujudnya nilai yang diharapkan

  • Pola pikir yang berpusat pada manusia, people centric, bukan tool centric. Perjalanan transformasi Industri 4.0 perlu fokus pada pembangunan kapabilitas SDM

  • Inovasi infrastruktur ke dalam teknologi yang terintegrasi dengan gambaran target yang jelas

Salah satu kasus yang bisa dicontoh yakni dari kasus Ford. Perusahaan otomotif ini berfokus pada inspeksi kualitas in-line berbasis sensor kamera atau camera vision. Mereka menyadari dalam proses quality control yang dilakukannya kurang efisien karena dilakukan diluar jalur. Mereka menarik produk keluar dari jalur produksi untuk diperiksa di area khusus yang tentunya mengganggu aliran produksi.


Untuk memecahkan masalah ini, Ford mengotomatiskan quality control-nya melalui pemeriksaan kualitas in-line berbasis kamera dari proses pengecatan. Hal ini tentunya meningkatkan deteksi cacat tanpa mengganggu aliran produksi. Ford memasang camera vision secara otomatis untuk mengidentifikasi partikel kotoran dalam pekerjaan cat sebagai pengganti inspeksi mobil manual mereka. Camera vision yang diterapkan mampu mendeteksi partikel kotoran yang lebih kecil dari sebutir garam. Setelah mengimplementasikan automated visual inspection ini, Ford mengalami peningkatan 90 persen dalam deteksi cacat dibandingkan dengan inspeksi manual oleh manusia.


Proses implementasi teknologi 4.0 yang dilakukan Ford tidaklah harus dicontoh sektor omototif lainnya. Karena untuk melangkah dalam perjalanan transformasi digital 4.0 ini tidak bisa disamaratakan antar sektor industri. Tiap perusahaan mempunyai kedudukan posisinya masing-masing. Maka hal yang perlu dirumuskan oleh para eksekutif adalah memahami betul posisi perusahaannya sekarang, menganalisis manakah bagian yang akan memberikan nilai paling besar disertai meningkatkan kapabilitas SDM-nya.


Referensi: McKinsey


0 comments