top of page

Cara Menentukan Mesin Kritis yang Layak Dipantau dengan Condition-Based Maintenance

Writer: Machine Vision Indonesia
Machine Vision Indonesia
6 days ago
9 min read
cara menentukan mesin kritis untuk dipantau dengan condition based maintenance

Bayangkan pukul 02.10 dini hari. Motor penggerak conveyor utama berhenti mendadak, lini produksi terhenti, dan produk setengah jadi menumpuk. Di area lain, pompa pendukung rusak tanpa dampak besar karena unit cadangannya langsung mengambil alih.

Dua kerusakan, dua dampak berbeda. Karena itu, tidak semua mesin perlu dipantau dengan intensitas yang sama, terutama ketika anggaran dan sumber daya maintenance terbatas.


Condition-Based Maintenance (CBM) menggunakan kondisi aktual mesin sebagai dasar tindakan pemeliharaan. Berbeda dengan condition monitoring yang berfokus pada pemantauan kondisi, CBM memanfaatkan hasil monitoring untuk menentukan tindakan maintenance.


Namun, tidak semua mesin cocok untuk pendekatan ini. Perusahaan perlu menilai dampak kegagalan sekaligus memastikan bahwa gejala kerusakan dapat dideteksi melalui metode monitoring yang sesuai.


Bagaimana menentukan mesin yang tepat? Nilai dampak kegagalan, prioritaskan aset kritis, lalu pastikan gejala kerusakannya dapat dideteksi.


Artikel ini membahas faktor penilaian, langkah pemeringkatan, contoh perhitungan, dan pemilihan metode monitoring.


Daftar Isi


Mengapa Tidak Semua Mesin Perlu Dipantau Sama Ketat?

Setiap mesin punya fungsi, karakter operasi, dan konsekuensi kegagalan sendiri. Kebutuhan monitoring sebaiknya mengikuti risiko dan manfaatnya, bukan jumlah mesin yang tersedia.


Ambil tiga aset dalam satu pabrik: motor penggerak lini utama, pompa proses pendukung, dan mesin yang punya unit cadangan. Motor yang rusak menghentikan seluruh lini. Mesin berunit cadangan yang rusak hanya memaksa tim berpindah ke unit lain. Memberi sensor dan perhatian yang sama pada ketiganya berarti membayar mahal untuk perlindungan yang tidak setara.


Standar ISO 17359:2018 tentang condition monitoring and diagnostics of machines memberi pedoman umum untuk menyusun program condition monitoring dan berlaku untuk semua mesin. Artinya, memilih mesin yang dipantau adalah bagian dari perencanaan program, bukan keputusan yang diambil dari jenis mesinnya saja.


Tindakan awal: ajukan satu pertanyaan pada setiap mesin, yaitu "jika ini berhenti sekarang, apa yang ikut berhenti?" Jawabannya sudah memisahkan mesin yang perlu perhatian dari yang tidak.


Apa Itu Analisis Kritikalitas Mesin, dan Mengapa Belum Cukup?

Asset criticality analysis adalah proses menilai seberapa penting sebuah aset berdasarkan konsekuensi jika aset itu gagal. Hasilnya berupa urutan prioritas: aset mana yang paling berdampak pada produksi, keselamatan, kualitas, dan biaya. Urutan itu menjadi dasar strategi critical equipment maintenance, termasuk memilih mesin untuk CBM.


Tetapi aset paling kritis belum tentu kandidat CBM terbaik. Sebuah aset bisa sangat kritis, namun kegagalannya datang tanpa gejala awal yang bisa diukur. Sebaliknya, aset berisiko menengah bisa menjadi kandidat bagus kalau kerusakannya muncul bertahap, misalnya bearing pompa yang getarannya naik pelan dari waktu ke waktu.


Di sinilah konsep P-F interval berguna. Dalam kerangka reliability-centered maintenance, P-F interval adalah selang waktu antara gejala kerusakan pertama yang bisa dideteksi dan kegagalan fungsional. Kalau selang itu lebih pendek daripada waktu yang Anda butuhkan untuk menyiapkan suku cadang dan menjadwalkan perbaikan, monitoring tidak menolong. Peringatannya datang terlambat.


Jadi pakai dua saringan berurutan. Pertama kritikalitas. Lalu keterdeteksian gejala, mode kegagalan, dan kelayakan teknis monitoring.


Enam Faktor yang Menentukan Kritikalitas Mesin

Sebelum menjalankan machine criticality analysis, tentukan kriteria yang cocok dengan kondisi fasilitas Anda. Enam faktor berikut adalah titik awal yang masuk akal.


1. Dampak terhadap produksi

Mesin yang menjadi satu-satunya jalur sebuah proses kritis hampir selalu lebih penting daripada mesin yang punya redundansi memadai. Tiga pertanyaan menentukannya: apakah mesin ini bagian dari proses kritis, apakah ada mesin lain yang bisa menggantikannya, dan berapa banyak lini yang berhenti jika ia mati?

Tindakan: gambar alur proses di papan tulis, lalu tandai setiap mesin yang tidak punya jalur alternatif.


2. Risiko keselamatan dan lingkungan

Peralatan berputar berkecepatan tinggi, pompa bahan berbahaya, dan peralatan bertekanan tinggi membawa konsekuensi keselamatan yang serius saat gagal. Nilai faktor ini mengikuti prosedur manajemen risiko perusahaan dan ketentuan yang berlaku. Skor kritikalitas tidak boleh dipakai untuk melonggarkan inspeksi wajib atau sistem proteksi keselamatan.

Tindakan: libatkan tim K3 saat menilai, dan perlakukan konsekuensi keselamatan yang serius sebagai pengecualian tersendiri, bukan angka yang dirata-ratakan dengan faktor lain.


3. Dampak terhadap kualitas produk

Pompa proses dengan debit tidak stabil, misalnya, bisa menggeser komposisi campuran dan membuat produk keluar dari spesifikasi. Hubungan seperti ini tidak berlaku untuk semua mesin. Buktikan lewat karakteristik proses dan data aktual, jangan diasumsikan.

Tindakan: cocokkan catatan reject atau penyimpangan kualitas dengan riwayat gangguan mesin selama beberapa bulan terakhir.


4. Biaya dan waktu pemulihan

Hitung biaya suku cadang, tenaga kerja, lama perbaikan, waktu tunggu komponen, dan kerugian operasional selama mesin tidak tersedia. Komponen yang harus dipesan dari pemasok luar negeri bisa membuat mesin berhenti jauh lebih lama daripada perbaikannya sendiri, terutama jika tidak ada unit pengganti.

Tindakan: catat waktu tunggu suku cadang utama setiap mesin kritis di register aset.


5. Risiko tanpa mesin cadangan

Unit cadangan mengurangi konsekuensi kegagalan, tetapi hanya jika benar-benar siap. Sering kali pompa cadangan ada di atas kertas, sementara katup isolasinya macet dan motornya berbulan-bulan tidak dijalankan. Keberadaannya di daftar aset belum menghilangkan risiko operasional.

Tindakan: jalankan unit cadangan secara berkala dan catat apakah kapasitasnya memadai.


6. Keterdeteksian gejala kerusakan

Faktor inilah yang menentukan apakah sebuah mesin cocok untuk CBM. Tanyakan apakah perubahan kondisi bisa dikenali sebelum kegagalan, parameter apa yang bisa diukur, dan apakah waktunya cukup bagi tim untuk bertindak. Perubahan pola getaran, misalnya, bisa menjadi indikator beberapa gangguan pada mesin berputar, tetapi tidak semua mode kegagalan terdeteksi lewat getaran.

Tindakan: pasangkan setiap mode kegagalan dengan satu parameter yang bisa diukur. Mode kegagalan tanpa parameter berarti belum siap dipantau.


Lima Langkah Memeringkat Mesin untuk Program CBM

Dengan enam faktor di tangan, jalankan equipment criticality ranking lewat lima langkah berikut.


Langkah 1: Petakan semua aset

Buat daftar mesin lengkap dengan ID aset, lokasi atau lini, fungsi utama, jam operasi, riwayat kerusakan dan maintenance, ketersediaan unit cadangan, serta dampak kegagalannya pada proses. Pemetaan membuat Anda melihat posisi tiap mesin dalam keseluruhan proses, bukan menilainya satu per satu secara terpisah.


Langkah 2: Tetapkan kriteria dan skala

Pakai kriteria yang sama untuk semua aset dalam satu kelompok evaluasi. Skala 1 sampai 5 cukup untuk memulai.

Skor

Tingkat dampak

Gambaran umum

1

Sangat rendah

Dampak minimal dan mudah ditangani

2

Rendah

Gangguan terbatas, pemulihan relatif mudah

3

Sedang

Memengaruhi proses atau butuh tindakan terencana

4

Tinggi

Mengganggu operasi secara signifikan

5

Sangat tinggi

Berpotensi berkonsekuensi besar bagi operasi atau keselamatan

Definisi konkret tiap skor harus disesuaikan dengan kebijakan, proses, dan toleransi risiko perusahaan Anda.


Langkah 3: Hitung skor berbobot

Beri bobot pada tiap faktor sesuai kepentingannya, dengan total bobot 100 persen, lalu jumlahkan hasil kali bobot dan skor:

Skor kritikalitas = (bobot faktor 1 × skor faktor 1) + (bobot faktor 2 × skor faktor 2) + dan seterusnya sampai faktor terakhir.

Skor berbobot hanyalah satu metode. Matriks risiko atau Failure Mode, Effects and Criticality Analysis (FMECA) juga bisa dipakai bila lebih cocok untuk pabrik Anda.


Langkah 4: Kelompokkan berdasarkan prioritas

Bagi mesin ke dalam prioritas tinggi, sedang, dan rendah. Batas antarkategori mengikuti metode penilaian dan konteks operasi Anda, karena tidak ada ambang skor yang berlaku universal. Pakai hasilnya untuk menentukan mesin yang perlu dievaluasi untuk CBM, bukan untuk langsung memasang sensor pada semua mesin berskor tinggi.


Langkah 5: Uji kelayakan condition monitoring

Untuk setiap mesin prioritas, jawab enam hal: mode kegagalan yang relevan, gejala atau parameter yang bisa diukur, teknik monitoring yang sesuai, frekuensi pengukuran, kelayakan teknis dan biayanya, serta tindakan maintenance yang akan diambil saat ada penyimpangan. Poin terakhir sering terlewat. Data tanpa tindakan hanya menambah tumpukan angka yang harus diperiksa.


Contoh Pemeringkatan Mesin untuk Condition-Based Maintenance

Tabel berikut simulasi ilustratif, bukan data dari fasilitas tertentu. Bobot dan skornya hipotetis, dipakai untuk memperlihatkan cara menilai, bukan sebagai rekomendasi untuk semua jenis mesin. Semua faktor searah: makin tinggi skor, makin berat dampaknya.

Faktor penilaian

Bobot contoh

Motor lini utama

Pompa proses

Kompresor udara

Dampak produksi

30%

5

4

4

Risiko keselamatan

25%

3

3

4

Dampak kualitas

15%

4

4

2

Biaya dan waktu pemulihan

15%

4

3

4

Risiko tanpa cadangan

15%

5

2

3

Skor berbobot

100%

4,20

3,30

3,55

Hitungan untuk motor lini utama: (0,30 × 5) + (0,25 × 3) + (0,15 × 4) + (0,15 × 4) + (0,15 × 5) = 1,50 + 0,75 + 0,60 + 0,60 + 0,75 = 4,20.


Motor lini utama berada di puncak, disusul kompresor udara (3,55) dan pompa proses (3,30). Perhatikan juga bahwa kompresor mendapat skor keselamatan lebih tinggi daripada motor (4 berbanding 3). Karena itu konsekuensi keselamatannya tetap perlu ditinjau lewat prosedur khusus, apa pun peringkat akhirnya.


Apa artinya bagi program CBM?

  • Motor lini utama: kandidat awal, karena konsekuensi kegagalannya pada produksi paling besar.

  • Kompresor udara: nilai perannya memasok udara ke peralatan produksi, pola kegagalannya, dan kapasitas cadangannya.

  • Pompa proses: nilai lebih lanjut fungsi, jenis fluida, dampak kegagalan, dan apakah kerusakan yang relevan bisa dideteksi.


Peringkat ini belum cukup untuk memutuskan sensor apa yang dipasang. Tim maintenance tetap perlu mengidentifikasi mode kegagalan tiap aset, lalu memastikan metode monitoring yang dipilih mampu menangkap gejalanya.


Cara Memilih Metode Condition Monitoring

Setelah mesin prioritas ditentukan, pilih parameter dan teknik berdasarkan potensi kerusakannya. Strategi condition monitoring yang baik dimulai dari mode kegagalan, bukan dari sensor yang kebetulan tersedia. Tabel berikut panduan awal, bukan resep baku.

Jenis aset

Parameter yang bisa dipertimbangkan

Yang perlu dievaluasi

Motor listrik

Getaran, suhu, parameter kelistrikan

Jenis motor, beban, dan mode kegagalan

Pompa

Getaran, suhu, tekanan, aliran

Jenis pompa, kondisi fluida, dan gejala gangguan

Kompresor

Getaran, suhu, tekanan, parameter operasi

Jenis kompresor, pola beban, dan mekanisme kegagalan

Bearing

Getaran dan parameter pelumasan yang relevan

Jenis bearing, kecepatan, beban, dan metode pengukuran

Sistem utilitas

Tekanan, suhu, aliran, daya

Parameter proses dan batas operasi yang berlaku

Tidak semua parameter perlu dipantau di setiap aset, dan tidak ada satu teknik yang menangkap semua gangguan. Pada mesin berputar, vibration monitoring membantu mendeteksi gejala seperti ketidakseimbangan, misalignment, atau masalah bearing. Pemilihan teknik dan pembacaan hasilnya tetap bergantung pada karakteristik mesin, kondisi operasi, dan standar teknis yang relevan.



Kapan Pencatatan Manual Tidak Lagi Cukup?

Di tahap awal, pengukuran berkala dan pencatatan manual pada beberapa mesin sudah memadai, selama jumlah aset masih sedikit dan frekuensi pemeriksaan sesuai risikonya. Masalah muncul saat aset bertambah. Bayangkan membaca kondisi satu mesin dari dua aplikasi vendor dan tiga lembar spreadsheet. Data datang dari sensor, perangkat akuisisi data, atau platform berbeda, dan tim harus menyatukannya agar melihat kondisi aset secara utuh.


Sistem monitoring terintegrasi layak dipertimbangkan jika Anda membutuhkan:

  • Pemantauan beberapa aset dalam satu platform.

  • Konsolidasi data dari sensor berbagai merek, bila kompatibel.

  • Riwayat dan tren parameter untuk mendukung evaluasi.

  • Visibilitas status kesehatan aset bagi tim terkait.

  • Alur tindak lanjut yang menghubungkan hasil monitoring dengan proses maintenance.


Sistem terintegrasi tidak menggantikan analisis teknis atau prosedur maintenance. Nilainya ada pada pengumpulan dan penyajian informasi kondisi, sehingga tim bisa menilai temuan dan menentukan tindakan.


Tinjauan sistematis oleh peneliti NIST (Dadfarnia, Sharp, dan Herrmann) di Journal of Manufacturing Systems, 2025 menyaring 465 studi dan menganalisis 42 di antaranya. Temuannya: studi evaluasi condition monitoring untuk sistem manufaktur masih sedikit, dan banyak studi kurang rinci soal model condition monitoring dan maintenance yang dipakai. Jadi jangan menelan klaim manfaat begitu saja. Uji lewat pilot kecil di pabrik Anda dengan indikator yang jelas, misalnya jumlah gangguan tak terencana pada mesin terpilih sebelum dan sesudah monitoring.


Kapan Perusahaan Membutuhkan Sistem Monitoring Kondisi yang Terintegrasi?

Ketika jumlah mesin yang dipantau semakin banyak, data kondisi peralatan dapat tersebar di berbagai sensor, perangkat, atau sistem monitoring. Kondisi ini menyulitkan tim maintenance untuk memperoleh gambaran kesehatan aset secara menyeluruh dan menentukan tindak lanjut berdasarkan data yang tersedia.


Condition-based maintenance platform membantu mengintegrasikan data kondisi peralatan agar informasi dari proses monitoring lebih mudah diakses, dianalisis, dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan maintenance.


Platform ini dapat dipertimbangkan ketika perusahaan menghadapi kebutuhan seperti:

  • Monitoring banyak aset: memantau kondisi berbagai mesin dari satu platform terpusat.

  • Integrasi beragam sensor: mengelola data dari sensor dengan merek atau principal berbeda, sesuai kompatibilitas sistem.

  • Pemantauan tren kondisi: melihat perubahan parameter mesin dari waktu ke waktu untuk membantu mengidentifikasi indikasi penurunan kondisi.

  • Penentuan tindak lanjut: membantu tim maintenance menggunakan informasi kondisi aset sebagai dasar untuk inspeksi, pemeriksaan lanjutan, atau penjadwalan pekerjaan.


Namun, penerapan platform perlu disesuaikan dengan hasil asset criticality analysis, jenis kegagalan yang ingin dideteksi, parameter kondisi yang tersedia, serta kebutuhan integrasi dengan sistem maintenance yang sudah digunakan perusahaan.


Kesimpulan

Menentukan mesin yang perlu dipantau dengan condition-based maintenance dimulai dari pemetaan aset dan penilaian tingkat kritikalitasnya. Perusahaan perlu mempertimbangkan dampak downtime, risiko keselamatan, konsekuensi kegagalan, serta kemampuan mendeteksi perubahan kondisi mesin.


Setelah prioritas aset ditentukan, perusahaan dapat memilih metode condition monitoring yang sesuai. Untuk kebutuhan monitoring banyak aset atau pengelolaan data dari beragam sensor, condition-based maintenance platform dapat membantu mengintegrasikan informasi kondisi mesin dan mendukung pengambilan keputusan maintenance yang lebih terstruktur.


Machine Vision Indonesia sebagai penyedia solusi digitalisasi industri seperti software maintenance, dapat membantu perusahaan mengevaluasi kebutuhan condition monitoring dan integrasi sistem industri berdasarkan karakteristik aset serta kebutuhan operasional pabrik.



FAQ tentang Pemilihan Mesin untuk Condition-Based Maintenance

Bagaimana cara menentukan mesin yang perlu dipantau dengan Condition-Based Maintenance?

Petakan aset, nilai dampak kegagalannya terhadap produksi, keselamatan, kualitas, dan biaya, lalu periksa mode kegagalan mana yang gejalanya bisa diukur. Prioritaskan mesin yang kritis sekaligus terdeteksi.


Apa yang dimaksud dengan asset criticality analysis?

Proses menilai tingkat kepentingan aset berdasarkan konsekuensi kegagalannya. Hasilnya membantu menyusun prioritas maintenance dan memilih aset yang perlu dievaluasi untuk condition monitoring.


Apakah semua mesin kritis harus dipasangi sensor?

Tidak. Keputusannya bergantung pada mode kegagalan, keterdeteksian gejala, biaya implementasi, dan manfaat yang diharapkan. Sebagian aset lebih cocok dengan inspeksi berkala, preventive maintenance, atau kombinasi beberapa pendekatan.


Mesin apa yang cocok untuk vibration monitoring?

Mesin berputar seperti motor listrik, pompa, kompresor, dan bearing, selama mode kegagalan yang ingin dideteksi memang muncul sebagai perubahan getaran. Pilihan sensor dan parameter mengikuti kebutuhan teknis tiap aset.


Kapan perusahaan butuh sistem condition monitoring terintegrasi?

Saat aset yang dipantau bertambah, data datang dari banyak sensor, atau tim membutuhkan tren kondisi dan status kesehatan mesin dalam satu tempat. Ukur kebutuhannya terhadap skala pabrik dan sistem yang sudah ada.







Comments


Ready to digitally transform your company? 

Discuss with us how our solution enables future digital growth in your company 

Screenshot_2022-11-14_at_11.54.24_AM-removebg-preview.png
bottom of page