Search
  • Machine Vision Indonesia

Belajar dari Kasus Kegagalan Quality Control di Perusahaan Farmasi


Ketika kita berbicara tentang "tingkat kecacatan" sebuah produk seperti mobil, laptop, consumer goods dan bahkan hamburger, dampak sebenarnya dari kualitas hanya tampak seperti biaya yang harus dibayar dalam menjalankan bisnis. Ya sebenarnya pihak manajemen selalu ingin memiliki kualitas yang lebih baik untuk produk apa pun, tapi nyatanya sebotol sampo yang hanya berisi 249 ml alih-alih 250 ml sesuai label, atau bahkan hamburger yang dibuat hanya dengan dua acar alih-alih empat seperti yang ditentukan sebenarnya tidak berdampak serius bagi kita, konsumen.


Tapi tidak demikian jika kita berpikir tentang kontrol kualitas dalam situasi yang lebih kritis, yang menyangkut nyawa manusia, seperti kontrol kualitas yang dijalankan di pabrik obat-obatan. Seketika topik kualitas jadi jauh lebih penting. Mayoritas dari kita pasti berpikir bahwa perusahaan farmasi sudah pasti memiliki kontrol kualitas yang sangat ketat dimana tidak ada ruang untuk kesalahan. Namun tidak demikian yang terjadi di salah satu perusahaan produsen obat kontrasepsi di Amerika Serikat.


Masalah kelalaian kontrol kualitas produsen obat kontrasepsi tersebut membuat badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan instruksi penarikan kembali untuk pil KB yang dikemas secara tidak benar. Pil KB seharusnya dikonsumsi sesuai urutan yang sudah ditentukan, namun perusahaan ini melakukan kesalahan dengan mengemas obat tersebut tidak sesuai dengan ketentuan.



Banyak dari kita yang sudah familiar dengan kemasan standar pil KB 28 hari. Bentuk pil yang berbeda dan harus dikonsumsi secara berurutan selama 28 hari sesuai dengan urutan yang terdapat di kemasan. Mengkonsumsi sesuai urutan yang ada tentu akan membuat obat tersebut bekerja dengan baik. Namun jika tidak, maka hasilnya akan jadi sebaliknya dan bisa sangat membahayakan.


Nah sekarang, seberapa buruk pengemasan yang dilakukan perusahaan tersebut? Ada beberapa kesalahan yang dilakukan. FDA menyediakan tiga sampel kesalahan untuk diperhatikan konsumen. Pada sampel pertama, di dalam kemasan obat yang seharusnya berisi dua jenis pil dengan pola 21-7 seperti gambar di atas malah berisi 22-6.



Di kemasan lain yang ditemukan malah berisi 28 pil dengan jenis yang sama.



Ada juga dalam satu kemasan kekurangan satu pil



Masalah-masalah di atas membuktikan bahwa perusahaan tersebut tidak memenuhi standar manufaktur six sigma yang sangat umum digunakan sebagai standar di dunia manufaktur. Dan yang mengkhawatirkan adalah bahwa ini bukan pertama kalinya perusahaan tersebut mengalami masalah kontrol kualitas yang menyebabkan penarikan kembali. Banyak kasus-kasus lain sebelum masalah ini. Hal lain yang mengejutkan adalah fakta bahwa kesalahan pengemasan telah menjadi penyebab beberapa perusahaan farmasi lain harus mengeluarkan penarikan untuk produk mereka dalam satu dekade terakhir.


Dari kasus perusahaan obat kontrasepsi ini, kita jadi bisa lebih memahami seberapa penting quality control sebelum produk disebar ke pasar. Seringkali, kita hanya menganggap sepele slogan sejenis “quality is our priority”. Namun dalam kasus obat kontrasepsi, dan juga obat-obat lainnya, atau bahkan makanan dan minuman, bisa menjadi sangat penting. Menjamin produk tersebut layak dan aman dikonsumsi harusnya benar-benar menjadi fokus semua produsen. Perusahaan perlu benar-benar menerapkan standar kualitas yang tinggi demi pelanggan, karyawan, dan stakeholder, dan juga untuk kelangsungan hidup mereka di pasar. Hal ini karena kesalahan sekecil apapun bisa memicu kerugian dan kehancuran citra perusahaan.



Artikel ini merangkum dari tulisan David Wyld di Longevity


Recent Posts

See All

Ready to digitally transform your company? 

Discuss with us how our solution enables future digital growth in your company 

Screenshot_2022-11-14_at_11.54.24_AM-removebg-preview.png