Search
  • Machine Vision Indonesia

Bagaimana Cara Menentukan Strategi Digital Ecosystem yang Tepat?


Ketika perusahaan berhasil memanfaatkan data yang dapat dihubungkan dengan cepat dan aman, inilah yang disebut dengan integrasi yang cerdas. Namun, ternyata hal ini tidaklah cukup untuk menciptakan ekosistem digital perusahaan. Dibutuhkan kesiapan data, keterlibatan pengguna dan platform yang terpadu untuk mengaktifkan ekosistem digital untuk menambah nilai bagi kelangsungan hidup bisnis


Ekosistem digital berfokus pada menghadirkan nilai ekstra bagi pelanggan dengan mengoptimalkan data dan alur kerja dari berbagai departemen internal, alat, sistem, serta pelanggan, pemasok, dan mitra eksternal. Ekosistem digital bukan merupakan hal baru, hal ini bisa diambil contoh dari Amazon yang konsisten sejak tahun 2000 membangun ekosistem digitalnya. Berawal dari perlunya membangun infrastruktur server ecommerce-nya di seluruh dunia, raksasa retail ini kini merambah ke berbagai bisnis yang masih mendukung induk bisnisnya seperti Amazon Web Services (AWS), Amazon Payment, Amazon Care dan masih banyak lagi.


Meskipun begitu, masih banyak perusahaan yang mengalami kesulitan untuk mencoba meniru kesuksesan ekosistem digital perusahaan besar seperti Google dan Amazon. Karena memang ekosistem itu kompleks, diperlukan pendekatan yang tepat untuk menangkap nilai maksimum dari ekosistem digital ini. Untuk itu, perusahaan perlu menentukan strategi ekosistem mereka dengan menilai karakteristik dan tren pasar serta "kesesuaian" mereka dalam ekosistem tertentu. Perusahaan juga perlu menentukan tujuan agenda pengembangan ekosistem digital ini, seperti apakah untuk menumbuhkan bisnis inti, menciptakan produk dan layanan baru, membangun solusi ujung ke ujung untuk segmen baru, atau meningkatkan efisiensi operasional.


Baca juga: Digital Ecosystem Untuk Mendongkrak Added Value Perusahaan


Perusahaan dapat memanfaatkan 5 nilai penggerak utama yang sejalan dengan tujuan penciptaan strategi ekosistem digitalnya. McKinsey telah merumuskannya dalam 3 pola yang tepat:


  1. Menumbuhkan bisnis inti Perusahaan dengan pola ini dapat memperoleh nilai dari pendapatan peningkatan produk dan layanan inti dan penggunaan platform melalui kemitraan. Ekosistem ini memungkinkan perusahaan untuk menjual lebih banyak produk ke lebih banyak pelanggan. Setelah ekosistem terbentuk dengan mencapai skala yang diinginkan, mulailah perusahaan dapat memberikan penawaran layanan yang lebih luas.

  2. Menciptakan produk atau layanan baru Perusahaan dapat memperoleh nilai dari banyak sumber termasuk produk dan layanan baru yang didanai pelanggan, penggunaan platform yang didanai pedagang, dan monetisasi data yang didanai pihak ketiga. Seperti halnya Tencent, melalui 2 produk jejaring sosialnya, QQ dan WeChat, menghasilkan pendapatan dari biaya pedagang untuk e-commerce, pembayaran, konten digital, dan layanan iklan.

  3. Membangun solusi dari ujung ke ujung Pola ini khusus untuk bisnis yang mengoptimalkan infrastruktur dan teknologi yang ada, lalu menawarkannya ke perusahaan lain. Hal ini dapat menciptakan aliran pendapatan baru dan menurunkan biaya operasional mereka.

Meskipun secara teoritis ekosistem digital ini terlihat mudah, namun realisasinya akan cukup menantang. Model bisnis, operasional, tren pasar, kultur perusahaan berperan penting, sama hal nya dengan teknologi pendukungnya. Namun tetap perlu dilihat dengan cara yang seimbang, tidak hanya teknologinya dan proses adopsinya, tetapi juga kapabilitas karyawannya. Karena tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua ukuran bisnis, semuanya harus ditangani secara harmonis berdasarkan sikon tiap perusahaan.


Referensi: McKinsey - How do companies create value from digital ecosystems?

More Than Digital - What Is A Digital Ecosystem?



Recent Posts

See All

Ready to digitally transform your company? 

Discuss with us how our solution enables future digital growth in your company 

Screenshot_2022-11-14_at_11.54.24_AM-removebg-preview.png