Search
  • Machine Vision Indonesia

Augmented Reality Mendobrak Efisiensi dalam Manufaktur Otomotif


Munculnya teknologi Augmented Reality (AR) membawa peluang baru di setiap langkah proses bisnis. Banyak perusahaan besar selalu mencari teknologi baru yang akan membantu meningkatkan proses manufaktur mereka. Industri otomotif menjadi salah satu sektor yang proaktif mengadopsi teknologi baru. Pemain besar seperti Volkswagen, BMW dan Hyundai telah memamerkan aplikasi Augmented Reality mereka terlebih dahulu.


Investasi ke Augmented Reality bukanlah sekedar hype teknologi saja, namun terbukti mampu membuat proses manufaktur lebih mudah dan meningkatkan berbagai aspek bisnis terkait. Mulai dari manajemen supply chain, operasi bengkel teknis, proses desain hingga pengiriman layanan ritel dan purna jual. Berikut beberapa implementasi augmented reality dalam meningkatkan efisiensi operasional bisnis:


  1. Pelatihan Teknologi augmented reality memberikan pelatihan yang dinamis dibandingkan pelatihan konvensional. Pelatihan karyawan turut menjadi aspek penting di industri otomotif untuk terus menerus belajar dan mendapatkan ilmu yang relevan. Teknologi imersif ini dapat memberikan lingkungan dan skenario bebas risiko yang memungkinkan karyawan mengasah keterampilan kapan saja. Investasi augmented reality dalam pelatihan karyawan memungkinkan tim yang berbeda berbagi pengetahuan di lokasi yang berbeda untuk menyelesaikan suatu hambatan.

  2. Maintenance Proses maintenance berhubungan langsung dengan kinerja, produktivitas dan kualitas produk. Dengan inovasi augmented reality, dapat membawa fungsi maintenance ke tingkat yang lebih tinggi. Saat melakukan maintenance pada peralatan yang kompleks, lebih mudah dilakukan dengan instruksi secara lebih dekat. Proses maintenance ini akan menjadi kurang efisien jika dilakukan secara manual. Salah satu pemain otomotif besar yang telah mengadopsi augmented reality untuk proses maintenance nya adalah Mitsubishi. Karyawan yang bertugas menggunakan kacamata AR untuk memastikan seluruh proses maintenance telah sesuai standar instruksi pemeliharaan rutin. Mereka bahkan dapat memasukkan hasil pemeriksaan dengan suara mereka, sehingga seluruh proses menjadi lebih efisien.

  3. Quality Assurance Penggunaan augmented reality dalam industri otomotif membuka kemungkinan baru dalam pemasangan sub rakitan, menghemat waktu, uang, dan menghindari kesalahan. Dengan augmented reality, operator dapat fokus pada tugas yang ada sambil menerima umpan balik secara visual di bagian yang dibutuhkan. Porsche telah mengadopsi teknologi ini sejak 2016 untuk memaksimalkan kualitas produknya. Karyawannya menggunakan device yang terhubung AR untuk membandingkan bagaimana kendaraan yang sudah dirakit cocok dengan desain aslinya. Hal ini untuk memastikan bahwa model kendaraan yang sudah dirakit akan memiliki kualitas terbaik untuk dikirim ke pelanggan.

  4. Design Prototyping Pembuatan desain dan prototipe di industri manufaktur membutuhkan proses yang panjang. Hal ini tentunya memakan waktu, biaya, bahan dan juga tenaga. Banyak produsen otomotif yang telah menggunakan augmented reality untuk merombak proses desain dan membuatnya lebih lancar dibandingkan secara konvensional. Ford Motor, misalnya, mengadopsi teknologi augmented reality dengan tujuan meningkatkan efisiensi tim desainnya. Dengan inovasi ini, proses desain, revisi untuk membuat perubahan dapat diselesaikan pada waktu tenggat yang tepat.

Augmented reality di industri otomotif memiliki masa depan yang menjanjikan. Tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional di factory floor, augmented reality turut meluas meningkatkan pembelajaran dan pelatihan kerja. Dari tahun 2020 sampai 2026, teknologi augmented reality di industri otomotif diprediksi akan meningkat 30% tiap tahunnya. Di masa depan, tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi AR akan menjadi lebih mulus dan dapat diakses di semua bidang.

0 comments