Search
  • Machine Vision Indonesia

4 Metrik Untuk Mengukur Kesuksesan Investasi Digital


Agenda digitalisasi saat ini bukan lagi wacana. Keharusan bisnis untuk merangkul digital, data, dan analitik sudah dipahami secara luas. Banyak perusahaan yang sudah mulai atau sedang dalam proyek transformasi digital. Namun sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan pemahaman digitalisasi yang dapat memberikan nilai inti untuk bisnis. Saat para CEO diberikan pertanyaan tentang bagaimana proses transformasi perusahaannya ke arah digital, mereka akan dengan mudah menjawab seperti sedang membangun platform teknologi baru, dalam proses meluncurkan produk baru, atau berinvestasi dalam infrastruktur digital lainnya. Namun ketika ditanyai terkait dampak digitalisasi dalam penumbuhan nilai bisnis, tidak banyak dari mereka yang bisa menjawab.


Inilah pentingnya CEO untuk memiliki roadmap digitalisasi yang jelas dan mempunyai prioritas digital yang tegas. Ketika prioritas digitalisasi telah dimulai, hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengukur kinerjanya. Mengingat skala dan kompleksitas transformasi digital, pengukuran menjadi aktivitas yang sangat penting untuk memastikan semua biaya dan upaya investasi digital terbayar dengan peningkatan kinerja.


Berikut lima metrik yang harus dipantau oleh seorang CEO untuk menilai kemajuan digital secara akurat:

  1. Pengukuran laba investasi digital Laba investasi digital juga termasuk penghindaran kerugian yang sebelumnya terjadi. Untuk memaksimalkan ROI, dapat dimulai dari mengubah satu lingkup pada satu waktu. Misalnya, lingkup pemasaran untuk perusahaan b2c mungkin mencakup akuisisi pelanggan, penetapan harga, penjualan silang, dan retensi. Mengubah domain satu per satu memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan kumpulan data, solusi teknologi, dan anggota tim serupa untuk beberapa kasus penggunaan, yang pada akhirnya menghemat waktu dan biaya.

  2. Persentase anggaran teknologi tahunan yang dihabiskan untuk digitalisasi Kuota investasi teknologi menjadi parameter utama yang dapat dipantau CEO untuk memastikan perusahaan dapat memberikan nilai lebih karena didukung bantuan digital. Banyak perusahaan tradisional yang menghabiskan anggaran untuk infrastruktur dan pemeliharaan karena sistem lama, kompleks, dan coding bahasa yang ketinggalan zaman. Lalu bagaimana jalan keluarnya? Dengan mengganti semua sistem mungkin tidak masuk akal karena bengkaknya biaya dan potensi mengganggu proses bisnis. Sehingga, perusahaan harus melakukan penyederhanaan dan pembaruan pada sistem yang memberikan nilai terbesar pada bisnis.

  3. Waktu yang dibutuhkan untuk membangun platform digital Masalah waktu dan kecepatan turut menjadi tolak ukur ROI digital. Adanya penundaan menghasilkan kerugian lain dan menguntungkan kompetitor. Namun, cepat bukan berarti tidak berfungsi dengan baik. Inilah pentingnya memutuskan pemilihan vendor dan platform secara matang. Dewasa ini, low code platform seperi yang dimiliki Machine Vision dianggap sebagai platform yang dapat mempercepat transformasi digital. Low code platform memberikan keleluasaan untuk perusahaan dapat membuat platform sesuai solusi yang dibutuhkan tanpa membutuhkan keahlian coding. Sehingga perusahaan dapat menyelesaikan masalah bisnisnya secara cepat tanpa bantuan dari pihak IT sekalipun.

  4. Bakat teknis yang bagus perlu dipertahankan Bakat teknologi seperti engineering, UI/UX, dan teknologi dapat menjadi pendorong kesuksesan jangka panjang di era digital saat ini. Ukuran bakat yang bagus memang dapat berubah, namun disinilah peran CEO dibutuhkan. CEO, sebagai satu-satunya orang yang memiliki pandangan menyeluruh tentang seluruh perusahaan harus memahami kebutuhan talenta apa yang paling kritis dan bisa dikembangkan untuk jangka panjang.

Keempat metrik di atas dapat digunakan untuk para CEO memantau dan menganalisis efektivitas investasi digital. Agenda ini juga harus didukung oleh para CXO lain dengan melacak pengukuran dalam lingkup ahli masing-masing. Jika semua agenda pengukuran ini terintegrasi, maka perusahaan akan dapat dengan mudah menyesuaikan akuisisi bakat, alokasi sumber daya dan culture untuk memastikan investasi digital ini memang benar memberikan nilai lebih untuk perusahaan.


0 comments