Search
  • Machine Vision Indonesia

Prospek Industri Kimia di Tahun 2022


Industri kimia merupakan salah satu sektor prioritas roadmap Making Indonesia 4.0 sehingga Kemenperin secara serius terus berupaya memperkokoh struktur industri ini. Pemerintah berupaya membangun iklim usaha industri yang baik, mutualisme dan berkesinambungan melalui berbagai regulasi yang dibuat. Tujuannya supaya investasi dapat terus bertumbuh dan meningkatkan kekuatan ekonomi Indonesia.


Meskipun dihadang pandemi dan menghambat operasional dari ujung ke ujung, industri kimia mampu menunjukkan pemulihan dengan upaya implementasi digitalisasi. Hal ini dibuktikan dengan tingkat digital maturity industri kimia global sebesar 42,2%, berada di atas rata-rata manufaktur keseluruhan yaitu 39%. Kondisi digitalisasi industri kimia saat ini 35% di tahap peluncuran, 30% di tahap pilot project dan 30% lainnya masih di tahap perencanaan.

Tahun 2022 diprediksi akan menjadi jalur pemulihan yang lebih kuat lagi untuk sektor kimia. Kabarnya sektor kimia harus mengalami peningkatan belanja modal karena pemain industri besar akan berfokus pada peningkatan kapasitas dan ekspansi ke end market melalui jalur organik dan anorganik. Beberapa prediksi prospek industri kimia lainnya adalah:


  1. Pertumbuhan end market Tahun 2022 menjadi tahun pemulihan yang kuat untuk sektor kimia utamanya di AS yang sudah sangat siap ketika ekonomi dibuka kembali dan regulasi pembatasan dicabut. Volume dan ekspor bahan kimia diperkirakan akan tumbuh secara signifikan sebagai komoditas utama. Namun dibalik pemulihan ini terdapat risiko inflasi dimana pasokan bahan baku dan tenaga kerja sedang berjuang untuk memenuhi permintaan yang bangkit kembali. Sehingga produsen kimia harus berupaya memposisikan rebound strategy yang kuat di end market di tengah kenaikan biaya.

  2. Adanya pandemi dengan kondisi pasar yang menantang pada tahun sebelumnya menyebabkan jumlah permintaan yang fluktuatif. Banyak bermunculan permintaan yang berbeda untuk plastik dan beberapa bahan khusus. Hal ini tentunya menguji ketahanan portofolio aset perusahaan. Untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih kuat dan peningkatan kinerja keuangan, perusahaan harus mengasah kemampuan portofolio produk dan layanannya dengan mengevaluasi beberapa bidang:

  • Berinvestasi dalam peluang nilai tambah yang lebih tinggi Selain divestasi aset non inti, perusahaan perlu berinvestasi dalam peluang bisnis yang bisa memberikan nilai tambah. Hal ini memerlukan eksplorasi pasar dan produk akhir dimana pengetahuan teknis dan kondisi pasar dikombinasikan sesuai skala ekonomi untuk mendorong margin lebih tinggi.

  • Antisipasi preferensi konsumen Kemajuan teknologi dan preferensi konsumen mendorong perusahaan mengevaluasi potensi peluang mana yang memberikan nilai tambah yang lebih tinggi. Hal ini juga juga memunculkan kemungkinan mengubah portofolio produk di masa depan dalam jangka panjang. Perusahaan yang mampu menyeimbangkan dua hal tersebut akan memiliki posisi lebih baik untuk mengatasi setiap tantangan potensial. Untuk itu, perusahaan harus memikirkan bagaimana cara mengkomersilkan peluang baru seperti teknologi tanpa limbah selagi mengoptimalkan portofolio produk yang sudah ada dan lebih konvensional. Maksudnya, perusahaan harus dapat memposisikan produk mereka untuk selalu selaras dengan pertumbuhan end market yang lebih tinggi.

  • Divestasi aset non inti Beberapa perusahaan kimia mengurangi produk layanan konvensional untuk dialihkan ke proyek yang lebih menguntungkan di tahun depan. Beberapa perusahaan juga mengalihkan investasi untuk mengembangkan aplikasi terkait kinerja bahan kimia. Kemungkinan akan banyak perusahaan lain menghadapi keputusan serupa dalam waktu dekat, meskipun peluang akan terus berubah seiring dengan berkembangnya teknologi dan pasar.

3. Perubahan iklim mendorong upaya keberlanjutan Adanya isu “Green Deal” di Eropa yang berkomitmen untuk netralitas karbon di tahun 2050, para pelaku industri berfokus pada teknologi inovatif seperti penangkapan karbon. Dalam survei Deloitte baru-baru ini, 90% responden industri kimia mengatakan mereka akan fokus pada peningkatan efisiensi sumber daya dan energi dalam produksi bahan kimia dan material untuk mendorong dekarbonisasi dan keberlanjutan pada tahun 2022. Perkembangan ini memungkinkan energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, menciptakan pasar baru untuk karbon dan produk sampingan lainnya. Hal ini tentu saja akan memunculkan model bisnis baru dan memajukan transisi energi. Untuk dari sisi tantangan, perusahaan mungkin memerlukan penjelasan lebih lanjut tentang dampak material yang akan ditimbulkan terhadap operasi, pasar, dan penilaian bisnis mereka.


4. Transformasi bisnis melalui teknologi digital

Saat ini perusahaan kimia kerap menerapkan teknologi analitik data canggih untuk solusi data silo, meningkatkan kinerja proses dan meminimalisir biaya. Prediksi di tahun depan perusahaan kimia akan berinovasi teknologi yang melibatkan penyelarasan budaya, orang, struktur, dan tugas. Menurut Deloitte, berikut adalah 5 dimensi teknologi yang akan memberikan dampak besar di tahun 2022:

  • User experience: Merancang sistemasi dan kenyamanan pelanggan saat menggunakan aplikasi untuk meningkatkan kepuasan, loyalitas, dan advokasi pelanggan

  • Talent enablement: Mesin dan robot membantu karyawan dalam tugas manual, sementara karyawan menggunakan teknologi digital untuk mendukung produktivitas dan menyelesaikan tugas secara efektif

  • Keandalan kinerja aset: Memperkuat kinerja aset dengan teknologi IoT dan pemantauan jarak jauh

  • Inovasi sistem material: Memanfaatkan transformasi digital untuk aktivitas R&D

  • Kolaborasi sistem: Bermitra dengan banyak pihak untuk pemecahan masalah kompleks terkait pelayanan pelanggan dan pasar dengan lebih baik

5. Diferensiasi customer-centric Perilaku konsumen telah berubah drastis selama dekade terakhir, terlebih karena pandemi Covid-19. Beberapa konsumen menginginkan kustomisasi produk, sehingga sudah sepantasnya perusahaan memenuhi kebutuhan konsumen dan memberikan pelayanan sesuai bahkan melebihi ekspektasi konsumen. Berikut beberapa hal yang bisa dipertimbangkan untuk bisnis yang berorientasi customer-centric:

  • Memahami pelanggan Melihat data profil konsumen akan memperoleh wawasan terkait kebutuhan tiap segmen pelanggan yang membutuhkan perbedaan kriteria syarat produk

  • Merancang pengalaman pelanggan Memahami riwayat pengalaman konsumen akan perusahaan akan memahami bagaimana pelayanan yang diinginkan

  • Memberdayakan frontliner Pelatihan, pemberdayaan dan pembuatan standarisasi untuk karyawan frontliner seperti customer service agar lebih responsif dan solutif ketika menghadapi banyak pertanyaan dan keluhan dari pelanggan

  • Menggunakan feedback untuk real time improvement Feedback dari pelanggan perlu ditangani dan diteruskan ke pihak manajemen sehingga dapat dibuat perubahan operasional dalam waktu dekat

Berbagai hambatan yang mungkin terjadi di masa depan dapat diselesaikan dengan digitalisasi solusi IoT. Visibilitas nantinya akan menjadi kemampuan paling penting di tahun mendatang. Konsep visibilitas ini juga tergantung pada hambatan masing-masing perusahaan. Misalnya, perusahaan yang mengalami lonjakan permintaan harus memastikan visibilitas di seluruh jaringan pasokan saat perusahaan meningkatkan proses produksinya. Sehingga tidak ada masalah yang timbul seperti kekurangan pasokan yang dapat menggagalkan aliran produksi. Secara garis besarnya, pengadopsian teknologi IoT haruslah berdasar gangguan dan hambatan yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan, tidak serta merta mengikuti tren tanpa analisis kondisi perusahaan dulu.


0 comments