Cari
  • Atika A

Digital Transformation atau Digital Maturity? Memahami Proses Digitalisasi di Perusahaan



Istilah transformasi digital sudah sangat akrab kita dengar baik di portal berita, percakapan kasual, bahkan pada rapat-rapat penting di perusahaan. Menuju industri 4.0, transformasi digital menjadi fokus berbagai perusahaan baik itu perusahaan raksasa maupun perusahaan menengah. Berbondong-bondong mengadopsi teknologi baru baik untuk mengoptimalkan aktivitas operasi maupun manajemen organisasi. Mengikuti tren teknologi dengan harapan agar bisnis bisa tetap kompetitif di tengah persaingan pasar yang masif.


Namun, apakah sebenarnya yang dimaksud transformasi digital ini? Apakah Internet of Things? Big data? Automation? Analytics? Artificial Intelligent? Ya, semua teknologi tersebut memang merupakan elemen dari transformasi digital. Tetapi poin dari transformasi digital bukan hanya sekedar mengimplementasikan teknologi-teknologi tersebut di perusahaan maupun upgrade ke teknologi paling mutakhir, namun bagaimana implementasi tersebut bisa dimaksimalkan untuk kebaikan karyawan dan perusahaan. Tidak jarang ada kasus dimana perusahaan yang semangat berinvestasi ke teknologi baru hanya demi "memiliki teknologi baru" tapi tidak digunakan oleh karyawan dan juga tidak dapat memberikan dampak positif transformasi pada bisnis.


Di sinilah mispersepsi seringkali terjadi. Leader menganggap dengan melakukan transformasi digital, hanya dengan berinvestasi pada teknologi canggih, perusahaan telah sukses bertransformasi. Padahal kesuksesan transformasi digital bukan terletak pada seberapa banyak teknologi yang diadopsi -menerapkan transformasi digital tidak perlu sekaligus. Sukses atau tidaknya sebuah transformasi digital sejatinya dapat diukur dari tingkat utilisasi teknologi tersebut. Sejauh mana karyawan di perusahaan melek dan bisa menggunakan teknologi pada kegiatan sehari-hari, dan sejauh apa keuntungan yang diberikan teknologi bagi perusahaan. Inilah yang disebut dengan digital maturity.


Studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group di tahun 2018 menghasilkan temuan bahwa perusahaan dengan level digital maturity yang tinggi dapat meningkatkan keunggulan kompetitif dan indikator performansi secara signifikan. Peningkatan performa tersebut antara lain seperti time to market, efisiensi biaya, kualitas produk dan kepuasan pelanggan.


Selaras dengan hasil tersebut, survei dari Deloitte di tahun berikutnya menunjukkan bahwa level digital maturity yang tinggi memberikan dampak terhadap performa finansial yang lebih baik. Artinya perusahaan dapat menghasilkan keuntungan dengan margin yang lebih tinggi dari rata-rata.


Agar bisa memperoleh keuntungan seperti yang telah disebutkan di atas, perusahaan harus menaruh usaha lebih dari sekedar menerapkan teknologi baru. Transformasi digital yang sukses ialah ketika tingkat digital maturity tinggi. Untuk mencapainya, diperlukan koordinasi yang baik dengan seluruh lapisan perusahaan (top down), tentang aset dan kapabilitas yang berkaitan dengan teknologi. Deloitte telah merancang tujuh poros digital yang dapat mendorong perusahaan untuk bisa mencapai digital maturity yang tinggi.

Fleksibilitas, keamanan infrastruktur
  • Mengimplementasikan infrastruktur teknologi yang menyeimbangkan kebutuhan privasi dan keamanan dengan kemampuan menyesuaikan kapasitas sesuai permintaan

Data mastery
  • Mengolah data yang kurang dimanfaatkan dengan cara menanamkan pada produk, jasa dan proses operasi untuk meningkatkan efisiensi, pendapatan dan keterlibatan konsumen

Digital savvy, open talent networks
  • Meninjau program pelatihan agar fokus pada kompetensi digital dan staff melalui talent model yang fleksibel untuk mengakses kebutuhan akan permintaan skill baru serta menyesuaikan skill karyawan dengan kebutuhan bisnis yang ada.

Ecosystem engagement
  • Bekerja sama dengan partner eksternal seperti perusahaan R&D, inkubator teknologi, dan startup untuk memperoleh akses ke sumber daya seperti teknologi, properti intelektual, atau bahkan bertemu orang-orang baru demi meningkatkan kemampuan organisasi untuk terus tumbuh dan berkembang

Intelligent workflow
  • Mengimplementasikan dan melakukan kalibrasi secara berkala terhadap proses yang memberikan hasil positif melalui pemanfaatan kapabilitas manusia dan teknologi. Mengelola sumber daya dengan baik untuk mempersiapkan tindakan-tindakan yang bernilai tinggi.

Manajemen pelayanan pelanggan
  • Memberikan pengalaman pelanggan yang berdasarkan pada perspektif pelanggan. Merancang digital customer journey yang disebarkan ke seluruh perusahaan dan memberikan penawaran personal untuk kepuasan pelanggan

Model bisnis yang adaptif
  • Memperluas jajaran business model dan aliran pendapatan dengan mengoptimalkan setiap penawaran untuk bisa beradaptasi dengan kondisi pasar yang berubah serta meningkatkan keuntungan dan pendapatan


Perusahaan-perusahaan yang lebih dewasa dalam proses digitalisasinya cenderung lebih komprehensif dan lebih terkoordinasi dalam mengeksekusi transformasi digital dari ketujuh poros tersebut. Selain itu, adanya implementasi strategi lintas-fungsional memberikan kesempatan bagi orang-orang dalam organisasi untuk bisa belajar banyak hal.


Di Indonesia sendiri, berdasarkan survei dari SWA yang bekerja sama dengan Accenture menunjukkan perusahaan dengan tingkat digital maturity yang tinggi ialah perusahaan-perusahaan yang memang sudah sangat besar dan stabil. Sementara untuk perusahaan kecil dan menengah masih banyak yang belum beralih ke transformasi digital. Sementara di kawasan Asia Pasifik, Singapura menjadi negara dengan tingkat digital maturity perusahaan skala kecil dan menengah tertinggi mengalahkan Korea Selatan, Jepang dan Cina (survei oleh Cisco tahun 2019).


MACHINE VISION
LINKS
ABOUT

lanius@machinevision.global

+62 821 4369 4139

+62 877 5339 3797

Jalan Baruk Utara X no. 37 Perum Pondok Nirwana, Rungkut

Surabaya, Indonesia

SOCIAL
  • White Instagram Icon
  • White LinkedIn Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon

© 2020 by Machine Vision Indonesia