Cari
  • Atika A

Lesson Learned: Cara Perusahaan di Cina Bangkit dari Krisis



Kita saat ini berada di situasi yang tidak pernah terbayang, situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam kurun waktu empat bulan, banyak bisnis yang babak belur karena krisis yang penuh ketidakpastian. Bisnis skala kecil maupun besar, semua berusaha untuk bisa tetap bertahan. Segala macam upaya dilakukan untuk bisa beradaptasi di tengah kondisi yang berubah secara konstan. Berbagai macam strategi pun dijalankan, seperti menekan biaya, mengurangi produksi, beralih produksi mengikuti kebutuhan pasar, hingga mempercepat investasi ke transformasi digital.


Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah kata bahasa Mandarin, "危机 (wéijī)" yang dalam Bahasa Indonesia berarti "krisis". Karakter tersebut tersusun dari gabungan dua karakter yaitu "危险(wéixiǎn)" yang berarti "bahaya" dan "机会 (jīhuì)" yang berarti "kesempatan". Dari karakter tersebut, kita bisa memaknai bahwa dalam setiap krisis yang dihadapi pasti terdapat bahaya yang menghadang dan juga kesempatan yang menanti. Kesempatan yang dapat mengantarkan kita melewati kondisi buruk yang terjadi.


Cina sebagai negara tempat ditemukannya virus ini pertama kali telah lebih dulu berhadapan dengan pandemi dan pelemahan ekonomi. Hampir seluruh industri jatuh saat kasus infeksi memuncak di berbagai daerah. Namun kini Cina mulai bangkit kembali di saat negara-negara lain masih berperang menekan angka kematian dari kasus terinfeksi. Melihat betapa cepatnya perusahaan-perusahaan di Cina bisa bangkit lagi, mungkin kita pun bisa mengambil pelajaran dari cara mereka beradaptasi, berinovasi, bertahan dan bahkan berkembang melalui masa sulit ini.


1. Terbuka dan transparan terhadap tantangan yang dihadapi

Perusahaan-perusahaan yang berhasil mengelola krisis COVID-19 menyatakan bahwa para pemimpin di perusahaan mereka transparan dalam memberi informasi tentang kondisi perusahaan kepada karyawan. Mereka rutin memperbarui informasi keadaan perusahaan beserta prioritas dan prinsip seperti apa yang akan digunakan sebagai panduan dalam pengambilan keputusan di semua tingkatan. Melalui cara ini, sebagian besar karyawan jadi menumbuhkan empati dan pengertian bahwa pandemi ini merupakan musibah bersama yang bisa dilewati bersama.


2. Memfasilitasi remote working

Seperti halnya di Indonesia, remote working bukan merupakan praktik yang lumrah di Cina. Tetapi pandemi memaksa perusahaan menerapkan remote working bagi para karyawannya agar meminimalisir penyebaran virus. Pada awalnya, bukan sesuatu yang mudah untuk mengakomodasi remote working baik karena minimnya kepercayaan manajer ataupun karena infrastruktur yang kurang memadai. Namun kini remote working masih dilakukan meskipun kondisi berangsur membaik.


3. Menggunakan mode komunikasi yang baru

Jika sebelum pandemi segala jenis komunikasi dilakukan melalui e-mail, saat pandemi terjadi segala jenis mode komunikasi bergeser ke panggilan audio dan video. Kini panggilan video telah menjadi sesuatu yang normal karena dianggap lebih cepat, efisien dan to-the-point.


4. Mempercepat transformasi digital

Kebijakan lockdown yang mendadak memaksa semua perusahaan untuk beralih ke mode digital dalam semalam. Kecepatan dan kreativitas menjadi kunci utama dalam proses adaptasi ke kondisi yang baru baik itu adaptasi di lingkungan internal perusahaan maupun adaptasi terhadap perubahan tuntutan konsumen. Banyak perusahaan, terutama perusahaan skala menengah dan besar yang mempercepat dan memperluas strategi digitalisasi mereka. Digitalisasi yang awalnya merupakan agenda tahunan, kini dipercepat menjadi beberapa minggu.


5. Memperbaiki alur pengambilan keputusan

Perusahaan di Cina terkenal dengan birokrasi top-down yang mana jika ada sebuah pekerjaan harus melewati persetujuan dari semua level jabatan. Namun adanya krisis memangkas alur komunikasi yang rumit tersebut. Dengan adanya digitalisasi dan otomasi, leader bisa secara langsung berhubungan dengan staff. Proses pengambilan keputusan jadi lebih cepat, mudah dan menyeluruh karena leader dan manajer bisa secara langsung mengamati perubahan kondisi yang terjadi di sekitarnya.


6. Menyusun cara kolaborasi yang baru

Agility merupakan kunci untuk bisa dengan cepat beradaptasi di tengah krisis. Untuk bisa mencapainya, diperlukan strategi kolaborasi yang baru baik antar karyawan dan tim di internal perusahaan maupun pihak eksternal seperti supplier, pelanggan dan pembuat kebijakan.


7. Mendukung pembelajaran di perusahaan

Melalui adanya pandemi ini, para leader semakin yakin bahwa memiliki pola pikir yang berfokus pada pembelajaran dan pertumbuhan akan memberikan dampak positif yang sangat penting bagi masa depan karyawan dan pekerjaannya. Banyak pemimpin C-level yang mulai melibatkan diri untuk menjadi mentor dan aktif dalam pengembangan karyawan.


8. Mendelegasikan tugas dengan pendekatan sukarela

Beberapa restoran cepat saji di Cina masih beroperasi di tengah pandemi untuk melayani para tenaga medis. Kondisi ini tentu sangat beresiko tinggi. Alih-alih menunjuk langsung siapa yang harus bekerja, leader menggunakan pendekatan sukarela yang mana karyawan atas kemauan dan motivasi sendiri bersedia bekerja. Pendekatan seperti ini membuat karyawan mampu bekerja dengan lebih baik. Selain itu juga meningkatkan dukungan moral dan keterlibatan antar staff.


9. Membangun empati

Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, kecemasan dan demotivasi sangat lumrah dialami karyawan. Kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan menjadi mimpi buruk mereka. Para pemimpin ini menyatakan bahwa mereka banyak membangun empati antar karyawan, meningkatkan kekompakan di antara tim yang bekerja bersama di tengah krisis.


10. Melakukan investasi jangka pendek

Perusahaan-perusahaan yang merupakan market-leading aktif melakukan investasi jangka pendek yang difokuskan untuk memperluas keunggulan jangka panjang mereka. Cara para leader perusahaan-perusahaan ini menghadapi masa-masa sulit ialah bukan dengan menyimpan kekayaan yang dimiliki. Alih-alih, mereka menginvestasikannya untuk memperkuat posisi kompetitif perusahaan mereka di pasar.


Melalui sepuluh poin di atas, sebagian besar cukup mudah untuk dijalankan di perusahaan tempat kita bekerja. Kita bisa belajar, bahkan mencoba menerapkan cara tersebut, tentunya tetap menyesuaikan kondisi perusahaan kita. We can beat this pandemic together.


Referensi:

https://hbr.org/amp/2020/06/lessons-from-chinese-companies-response-to-covid-19

MACHINE VISION
LINKS
ABOUT

lanius@machinevision.global

+62 821 4369 4139

+62 877 5339 3797

 

Jalan Ir. Soekarno No. 487

Surabaya, 60115

Indonesia

SOCIAL
  • White Instagram Icon
  • White LinkedIn Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon

© 2020 by Machine Vision Indonesia